Malu
karena Kebajikan, Pantaskah?
Di era modernisasi ini merupakan era
pergeseran sikap dan mentalitas sebagai warga masyarakat untuk dapat
hidup sesuai dengan tuntutan masa kini. Namun hal tersebut mengejutkan akibat
perpindahan kiblat umat islam dalam artian dahulu meniru kebudayaan yang datang
dari Negara belahan timur dan kini telah berada dalam ketakjuban terhadap
perkembangan-perkembangan para belahan bumi bagian barat.
Sehingga dalam upaya menyikapi kenyataan yang sangat tragis tersebut dan
juga dengan kesaksian terhadap warga Indonesia sendiri dengan maraknya tindak
kriminalitas yang terjadi, maka untuk meminimalisasi kenyataan tersebut perlu
pembedahan terhadap kualitas moral dan kualitas ibadah seseorang, antara lain
karena hilangnya atau menipisnya rasa malu itu. Sebagai seorang muslim kita
harus berusaha menumbuhkan dan membudayakan rasa malu itu. Sebab sifat malu itu
kata Nabi Saw, tidak datang kepada seseorang, kecuali membawa kebaikan dan
kemaslahatan baginya.
Sifat malu, seperti disebut dalam banyak hadis, merupakan bagian dari pada iman. Sebagai bagian dari pada iman, sifat malu dapat
diidentifikasikan sebagai salah satu kekuatan moral yang akan membentengi
manusia dari berbagai keburukan dan kejahatan. Untuk itu, tak heran bila
pembudayaan sifat malu itu menjadi salah satu misi kenabian.
A.
Definisi Malu dan Iman
Dalam bahasa Arab, kata al-haya>’ (sifat malu) itu berasal
dari kata al-haya>h’ yang secara harfiah berarti hidup. Ini
mengandung makna bahwa sifat malu itu bergantung pada hidupnya hati dan jiwa
seseorang (haya>h al-qalb). Semakin hidup rohani dan jiwa
manusia, semakin tinggi dan besar pula sifat manusia yang dimiliki. Menurut
ibnu Qayyim al-Jauziyah, sifat malu itu banyak jenis dan macamnya. Namun, yang
terpenting dari semua itu adalah dua macam sifat malu yang perlu terus dipupuk
dan dipelihara oleh manusia, yaitu sifat malu kepada diri sendiri dan malu
kepada Sang Pencipta.
Banyak definisi malu yang diberikan
para ulama, seperti Al-Junaid yang berkata, “karena melihat berbagai macam
karunia dan melihat keterbatasan diri sendiri, maka di antara keduanya muncul
suatu keadaan yang disebut malu. Hakikatnya adalah akhlak yang mendorong untuk
meninggalkan keburukan dan mencegah pengabaian dalam memenuhi hak Allah.”
Sebagian orang arif berkata, “hidupkanlah rasa malu dengan berkumpul dengan
orang-orang yang memiliki rasa malu. Hidupkanlah hati dengan kemuliaan dan rasa
malu. Jika keduanya hilang dari hati, maka di dalamnya tidak ada kebaikan yang
menyisa.” ```
Dalam atsar Ilahy Allah berfirman, “Wahai anak Adam, kamu tidak merasa malu
kepada-Ku. Aku sudah membuat manusia lupa aibmu, Aku telah mambuat bumi lupa
dosa-dosamu, dan Aku menghapus dari induk kitab kesalahan-kesalahanmu. Jika
tidak, tentu aku akan menghisabmu pada hari kiamat.”
Al-Fudhail bin Iyadh berkata, “Lima tanda penderitaan: kekerasan hati,
kejumudan mata, sedikit malu, keinginan terhadap dunia dan angan-angan yang
muluk-muluk.”
Dalam atsar Ilahy kembali disebutkan, “Hambaku benar-benar tidak adil
terhadap-Ku. Ia berdoa kepada-Ku dan aku malu untuk tidak memperkenankannya,
namun dia durhaka kepada-Ku dan dia tidak malu kepada-Ku.” Malunya Allah
terhadap hamba tidak bisa diketahui melalui suatu pemahaman dan tidak bisa
digambarkan akal, karena itu merupakan rasa malu yang timbul dari kemurahan
hati, kebajikan dan keagungan. Yang pasti Allah merasa malu terhadap hamba-Nya,
jika hamba itu menengadah tangan lalu kembali dengan hampa.
Dari pembahasan-pembahasan di atas dapat dikorelasikan antara keimanan dan
rasa malu dengan berdasar kepada hadis-hadis. Seperti:
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ
بْنُ يُوسُفَ قَالَ أَخْبَرَنَا مَالِكُ بْنُ أَنَسٍ عَنِ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ
سَالِمِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ - صلى الله عليه
وسلم - مَرَّ عَلَى رَجُلٍ مِنَ الأَنْصَارِ وَهُوَ يَعِظُ أَخَاهُ فِى الْحَيَاءِ
، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - « دَعْهُ فَإِنَّ الْحَيَاءَ
مِنَ الإِيمَانِ
Artinya:
“Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Yusuf
berkata telah mengabarkan kepada kami Malik bin Anas dari Ibnu Shihab dari
Salim bin Abdullah dari ayahnya, sesungguhnya Rasulullah Saw melewati seseorang
yang sedang menasehati saudaranya karena malu, maka Nabi Saw bersabda,
“Biarkanlah ia karena sesungguhnya malu itu sebagian dari iman.” (HR. Bukhari)
Kata يعظ dalam hadis tersebut menerangkan sesuatu kerusakan
yang secara pasti akan menimpanya, kata الحياء
menunjukkan sifat menetap dalam jiwa yang mencegah dilakukannya perbuatan
jelek. Sedangkan kata دعه mengisyaratkan bahwa tahanlah dari
melarangnya dan biarkanlah ia menetapi rasa malunya, karena hal itu ditimbulkan
dari sebagian rasa keimanannya.
Selain itu, rasa malu itu merupakan sifat yang utama. Ia merupakan bagian
dari kesempurnaan iman. Karena orang yang memiliki sifat malu akan menjauhkan
dirinya dari perilaku kurang baik dan membangkitkan untuk selamanya berbuat
baik dan taat. Sedangkan dalam hadits riwayat Muslim dari Abu Hurairah
dinyatakan bahwa malu (al-haya>) merupakan satu cabang dari 77
cabang keimanan, dengan ungkapan malu itu sebagian cabang dari iman. Ia sejajar
dengan kewajiban shalat lima waktu, menunaikan zakat, berhaji, menjaga farj
(kemaluan), dan yang lainnya.
Dalam riwayat Al-Tirmidzi, bersumber dari riwayat Abdullah Ibn Mas’ud
diceritakan tentang kriteria hakikat malu ini, yaitu: menjaga kepala dan
sesuatu yang ada di dalamnya, menjaga
perut dan sesuatu yang dikandungnya, senantiasa ingat mati serta ingat
kehancuran fisik (tubuh), dan meninggalkan hiasan duniawi guna memperoleh
kebaikan di akhirat.
Selain itu, kata iman jika ditinjau dalam bahasa Arab Iman
berarti mengetahui, mempercayai dan menjadi yakin tanpa keraguan
sedikitpun. Dengan demikian iman berarti keyakinan yang tidak tergoyahkan yang
timbul berdasar pengetahuan dan kepercayaan. Seseorang yang mengetahui dan
percaya kepada Allah, sifat-sifat-Nya, hukum-hukum-Nya disebut mukmin.
Kepercayaan ini membimbing manusia menjadi taat dan menyerahkan diri kepada
kehendak-Nya. Dan manusia yang menjalankan ini disebut muslim. Dapatlah
dikatakan bahwa ajaran yang dibawa Nabi Muhammad yang paling fundamental. Hal
ini ditunjukkan dengan kalimat tauhid dalam islam la>ilaha illaallah.
Kalimat ini menjadi landasan, dasar dan inti islam, yang membedakan manusia
menjadi seorang mukmin atau kafir. Pengakuan atau penolakan terhadap kalimat
tauhid/syahadat membedakan antara manusia muslim dan non muslim.
Iman merupakan masalah hati nurani atau hati dan pikiran.
Tetapi ia harus bermuara dalam tindakan. Al-Quran selalu menggandengkan iman
dengan amal beriman shaleh ketika
berbicara tentang iman itu sendiri, atau lebih sering ketika menyebut keadaan
orang beriman dan menyebut iman saja tanpa amal shaleh. Sebaliknya, amal shaleh
yang sesungguhnya harus bermuara dari iman, amal shaleh yang tidak berakar di
dalam iman adalah tindakan yang tidak membuahkan apa-apa. Dapatlah dikatakan
bahwa iman atau percaya secara mutlak kepada Allah itu harus mengandung tiga
unsur, yaitu: diikrarkan dengan lidah, dikokohkan di dalam hati, dan
dilaksanakan dengan anggota badan.
B.
Hakikat Malu.
Malu menurut
Imam Ibn Qayyim al-Jauziyyah adalah materi kehidupan hati. Ia merupakan pook
dari semua kebaikan. Kehilangannya berarti hilangnya seluruh kebaikan. Ia
terbentuk dari kehidupan. Maka siapa pun yang tidak mempunyai rasa malu, maka
dia adalah bangkai di dunia dan sengsara di akhirat.
Malu ini ada tiga derajat, yaitu:
1.
Malu yang muncul karena seorang hamba tahu bahwa Allah
melihat dirinya, hingga mendorongnya untuk bermujahadah, mencela keburukannya
dan membuatnya tidak mengeluh. Selagi seorang hamba bahwa Allah melihat
dirinya,, maka hal ini membuatnya malu terhadap Allah, Allah mendorongnya untuk
semakin taat. Allah senantiasa melihat hambanya. Jika hati merasa bahwa Allah
tidak melihatnya, maka ia tidak merasa malu terhadapnya.
2.
Malu yang muncul karena merasakan kebersamaan denganAllah,
sehingga menumbuhkan cinta, merasakan kebersamaan dan tidak suka bergantung
kepada makhluk. Kebersamaan dengan Allah ada dua macam yaitu, umum dan khusus.
Yang umum ialah kebersamaan ilmu dan keikutsertaan, seperti firman Allah dalam
Q.S Al-Hadid: 4
هُوَ
الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى
عَلَى الْعَرْشِ يَعْلَمُ مَا يَلِجُ فِي الْأَرْضِ وَمَا يَخْرُجُ مِنْهَا وَمَا
يَنزِلُ مِنَ السَّمَاء وَمَا يَعْرُجُ فِيهَا وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا
كُنتُمْ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ ﴿٤﴾
Terjemahnya:
"Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian dia
bersemayam di atas ‘Arsy. Dia mengetahui apa yang masuk kedalam bumi dan apa
yang keluar dari dalamnya, apa yang turun dari langit dan apa yang naik kesana.
Dan dia bersama kamu dimana saja kamu berada. Dan Allah melihat apa yang kamu
kerjakan.”
أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ
يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مَا يَكُونُ مِن نَّجْوَى
ثَلَاثَةٍ إِلَّا هُوَ رَابِعُهُمْ وَلَا خَمْسَةٍ إِلَّا هُوَ سَادِسُهُمْ وَلَا
أَدْنَى مِن ذَلِكَ وَلَا أَكْثَرَ إِلَّا هُوَ مَعَهُمْ أَيْنَ مَا كَانُوا ثُمَّ
يُنَبِّئُهُم بِمَا عَمِلُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ
عَلِيمٌ ﴿٧﴾
Terjemahnya:
“Tidakkah kamu perhatikan, bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada
di langit dan apa yang ada di bumi? Tiada pembicaraan rahasia antara tiga
orang, melainkan Dia-lah yang keempatnya. Dan tiada (pembicaraan antara) lima
orang, melainkan Dia-lah yang keenamnya. Dan tiada (pula) pembicaraan antara
(jumlah) yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia ada bersama
mereka di manapun mereka berada. Kemudian Dia akan memberitakan kepada mereka
pada hari kiamat apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha
Mengetahui segala sesuatu.” (Q.S Al-Mujadilah: 7)
Sedangkan kebersamaan yang bersifat khusus ialah
kedekatan bersama Allah, seperti firman-Nya, “Sesungguhnya Allah bersama
orang-orang yang sabar” (Q.S Al-Baqarah: 153).
Dua makna ini merupakan kesetaraan Allah dengan hamba.
Kata مع dalam bahasa Arab berarti kesetaraan dan penggabungan yang
selaras tidak mengharuskan adanya percampuran, kedekatan dan berdampingan.
Sedangkan kata dekat, tidak disebut dalam Al-Quran kecuali dengan pengertian
yang bersifat khusus, yaitu kedekatan Allah dengan orang yang berdoa
kepada-Nya, dengan cara mengabulkannya, dan kedekatan Allah dengan orang yang
beribadah kepada-Nya, dengan cara memberinya pahala.
3.
Malu yang muncul karena melepaskan ruh dan hati dari
makhluk, tidak ada kekhawatiran, tidak ada pemisahan, dan tidak berhenti untuk
mencapai tujuan.
C.
Hadis-Hadis
tentang Malu
1.
Iman itu terdiri dari lebih dari tujuh puluh bagian
حَدَّثَنَا زُهَيْرُ بْنُ
حَرْبٍ حَدَّثَنَا جَرِيرٌ عَنْ سُهَيْلٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ دِينَارٍ عَنْ
أَبِى صَالِحٍ عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه
وسلم الإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً
فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَدْنَاهَا إِماطَةُ الأَذَى
عَنِ الطَّرِيقِ وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الإِيمَانِ
Artinya:
“Telah
menceritakan kepada kami Zuhair bin Harbi telah menceritakan kepada kami
Jari>r dari Suhail dari Abdillah bin Dinar dari Abu Hurairah ra, dari Nabi
Saw, beliau bersabda, “Iman itu terdiri dari lebih dari tujuh puluh bagian yang
paling utama ialah perkataan laailaha illallah dan paling rendah ialah
menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan malu adalah salah satu bagian dari
iman.”(HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam hadis ini Allah
manjelaskan bahwa keimanan itu tidak hanya satu macam atau satu warna saja
melainkan bermacam-macam dan berwarna-warni hingga mencapai tujuh puluh macam
lebih. Yang lebih baik ialah kalimat “laa ilaha illallah”. Kalimat ini jika
ditimbang dengan langit dan bumi, maka dia lebih berat dari keduanya, karena
ini merupakan kalimat ikhlas dan kalimat tauhid. Kalimat yang dengannya kita
memohon agar kalimat penutup bagi kehidupan kita. Kemudian Rasulullah Saw
bersabda, “Dan malu adalah salah satu bagian dari iman”, dalam hadis lain
disebutkan, “Malu adalah sebagian dari iman.” Malu adalah keadaan jiwa tertentu
yang muncul karena malu terhadapnya. Malu termasuk akhlak Rasulullah bahkan
lebih pemalu daripada para gadis yang malu-malu kucing, hanya saja beliau tidak
malu dalam menegakkan kebenaran.
Sebagaiman dalam firman Allah dalam QS. Al-Ahzab: 53
وَاللَّهُ لَا يَسْتَحْيِي مِنَ الْحَقِّ
“… Dan Allah tidak malu (menerangkan) yang benar…..”
2.
Malu mendatangkan kebaikan.
حَدَّثَنَا آدَمُ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَبِى السَّوَّارِ
الْعَدَوِىِّ قَالَ سَمِعْتُ عِمْرَانَ بْنَ حُصَيْنٍ قَالَ قَالَ النَّبِىُّ صلى
الله عليه وسلم الْحَيَاءُ لاَ يَأْتِى إِلاَّ بِخَيْرٍ
Artinya:
“Malu
itu tidak mendatangkan sesuatu melainkan kebaikan semata-mata.” (Muttafaq
‘alaihi)
Malu adalah sifat yang ada pada jiwa yang mendorong seseorang untuk
melakukan perbuatan yang bisa memperbaiki dan memperindahnya serta meninggalkan
hal yang bisa menodai dan memperburuknya. Sehingga engkau jumpai ketika dia
melakukan hal yang menyimpang dari syariat dan meninggalkan sesuatu yang
seharusnya dia kerjakan akan merasa malu terhadap manusia. Jika dia melakukan
hal yang haram dan meninggalkan kewajiban dia merasa malu kepada Allah.
3.
Malu dan
Diamnya Lisan
حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ
مَنِيعٍ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ عَنْ أَبِى غَسَّانَ مُحَمَّدِ بْنِ
مُطَرِّفٍ عَنْ حَسَّانَ بْنِ عَطِيَّةَ عَنْ أَبِى أُمَامَةَ عَنِ النَّبِىِّ
-صلى الله عليه وسلم- قَالَ « الْحَيَاءُ وَالْعِىُّ شُعْبَتَانِ مِنَ الإِيمَانِ وَالْبَذَاءُ
وَالْبَيَانُ شُعْبَتَانِ مِنَ النِّفَاقِ
Artinya:
“Telah menceritakan kepada kami
Ahmad bin Mani’telah menceritakan kepada kami Yazid bin Haru>n dari Abi
Gassa>n Muhammad bin Mutharrif dari Hassa>n bin a’ttiyah, rasa malu dan diamnya lisan
(karena takut terjatuh pada perkataan haram) adalah bagian dari keimanan.
Ucapan cabul dan kefasihan lisan (tetapi bukan dalam hal kebenaran) keduanya
adalah bagian dari kemunafikan.” (HR Tirmidzi)
Seseorang yang mempunyai rasa malu, akan taat kepada
segala perintah Allah dan menghindar dari segala larangan-Nya, ia memelihara
kepalanya, memelihara perut dan isinya dan dia tidak terpedaya dengan hiasan
dunia. Orang yang mempunya rasa malu menahan diri dari mengganggu orang lain,
dan tidak mau melontarkan kata-kata keji dan buruk. Sebab malu termasuk ke
dalam golongan kesempurnaan muru’ah dan kegemaran kepada sebutan baik. Nabi Muhammad Saw bersabda:
مَنْ اَلْقَى
جِلْبَابَ اْلحَيَاءِ فَلاَ غِيْبَةَ لَهُ.
Artinya:
“Barang siapa
yang melemparkan pakaian malu dari dirinya maka tidak ada umpatan”.
Orang yang mempunyai rasa malu akan
memelihara dan membentengi diri dari kecemasan di dalam khalwat.
Sebaliknya orang yang tidak mempunyai rasa malu, menjadi kurang muru’ah dan
tidak sanggup mengekang nafsu. Seseorang yang telah lengkap padanya seluruh
arti malu, maka sempurnalah padanya segala sebab kebajikan dan hilanglah dari
padanya segala sebab kejahatan.
4.
Jika tidak
malu, lakukanlah apa yang kamu sukai.
حَدَّثَنَا آدَمُ حَدَّثَنَا
شُعْبَةُ عَنْ مَنْصُورٍ قَالَ سَمِعْتُ رِبْعِىَّ بْنَ حِرَاشٍ يُحَدِّثُ عَنْ
أَبِى مَسْعُودٍ قَالَ النَّبِىُّ صلى
الله عليه وسلم إِنَّ مِمَّا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلاَمِ النُّبُوَّةِ إِذَا
لَمْ تَسْتَحِى فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ
Artinya:
“Telah menceritakan kepada kami Adam
telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Mansur berkata saya telah mendengar
Rib’iyyah bin Hirasy sedang menceritakan dari Abi Mas’ud bahwa Nabi Saw
berkata, (Ketahuilah) sesungguhnya diantara perkataan para Nabi yang diketahui
oleh orang-orang adalah, jika kamu tidak malu, lakukanlah apa yang kamu
sukai.”(HR Bukhari)
Ada dua makna
berkaitan dengan hadis ini: Pertama, ini merupakan peringatan dan pengabaran,
yang artinya: Siapa yang tidak malu tentu akan berbuat sesukanya. Kedua, ini
merupakan pembolehan, yang artinya, lihatlah perbuatan yang hendak engkau
lakukan. Jika termasuk sesuatu yang tidak mengandung rasa malu, maka
lakukanlah.
إِذَا لَمْ تَسْتَحِى فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ penafsiran yang jelas dan masyhur, yaitu apabila kita
tidak malu aib akan terungkap, harga diri akan ternodai karena apa yang kita
lakukan, kita bisa mengerjakan semua yang kita inginkan, terlepas hal itu baik
atau buruk. Di dalam hadis ini juga mengandung pemberitahuan bahwa rasa malu
bisa mencegah manusia dari melakukan keburukan. Jika rasa malu itu lenyap dari
manusia, mereka akan melakukan semua bentuk kesesatan dan keburukan.
5.
Rasulullah
sangat Pemalu
حَدَّثَنَا
عَبْدَانُ أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ أَخْبَرَنَا شُعْبَةُ عَنْ قَتَادَةَ
سَمِعْتُ عَبْدَ اللَّهِ هُوَ ابْنُ أَبِى عُتْبَةَ مَوْلَى أَنَسٍ عَنْ أَبِى
سَعِيدٍ الْخُدْرِىِّ قَالَ كَانَ النَّبِىُّ صلى الله عليه وسلم أَشَدَّ حَيَاءً
مِنَ الْعَذْرَاءِ فِى خِدْرِهَا ، فَإِذَا رَأَى شَيْئًا يَكْرَهُهُ عَرَفْنَاهُ
فِى وَجْهِهِ
Artinya:
“Telah menceritakan kepada kami ‘Abda>n telah
mengabarkan kepada kami Syu’bah dari Qatadah saya telah mendengar Abdullah dia
anak Abu ‘Utbah Maula Anas dari Abu Sa’id Al-Khudri Ra, ia berkata, “Rasulullah
itu sangat pemalu, melebihi malunya seorang gadis yang dipingit. Ketika melihat
sesuatu yang tidak beliau tidak sukai, kami dapat mengetahui melalui raut
wajahnya.” (Muttafaq ‘Alaih)
Para ulama
mengatakan, “ Hakikat malu adalah budi pengerti yang mengajak untuk
meninggalkan kejelekan dan mencegah dari mengulangi hak orang lain.”
Disebutkan dalam riwayat Abul Qasimal-Junaid ra, ia berkata, “Malu adalah
memandang kebaikan dan melihat
kekurangan diri sendiri. Dari keduanya, lahirlah perasaan yang disebut malu.”
Dari hadis di
atas dapat disimpulkan bahwa Rasulullah adalah orang yang sangat malu, lebih
malu dibandingkan gadis perawan yang ada dalam pingitannya. Al-‘Adzra’ (gadis pingitan) adalah wanita yang belum
menikah, biasanya mereka sangat malu. Namun nabi lebih malu dibandingkan gadis
pingitan dalam pingitannya, Hanya saja be;iau tidak pernah merasa malu untuk
menjelaskan kebenaran. Beliau menerangkan dan menjelaskan kebenaran tanpa
peduli terhadap seorang pun.
Adapun dalam hal-hal yang tidak
menyia-nyiakan hak maka nabi adalah manusia yang paling malu. Maka hendaknya
kita sebagai seorang muslim selalu memiliki sifat malu, adab dan berakhlak
dengan akhlak mulia yang terpuji di hadapan manusia.
Ketika
Semangat telah Menjadi Problem.
Segala kelemahan pada hakikatnya
bersumber dari jiwa manusia itu sendiri. Orang yang berjiwa lemah tidak
mempunyai cita-cita yang luhur, tidak memiliki semangat juang dan kosong dari
gairah kerja. Perasaan lemah jelas akan merugikan pribadi, malah dipandang
sebagai penyakit rohani yang sangat merusak. Rasulullah saw dalam doanya
memohon kepada Allah swt agar dijauhkan dari sifat lemah. Ini menunjukkan bahwa
sifat tersebut perlu di hilangkan dari lubuk batin manusia.
Islam sangat tidak sepakat bila
pengikutnya berkeluh kesah dengan sikap lemah semacam ini. Jika kita tilik
lebih jauh, bukankah Allah telah menciptakan manusia dalam bentuk yang
sebaik-baiknya (ahsani taqwim). Karenanya, manusia perlu memanfaatkan segala
kelebihan yang dimilikinya. Firman Allah Swt:
“Janganlah kamu
bersikap lemah dan janganlah (pula) kamu bersedih hati,padahal kamulah orang
yang paling tinggi(derajatnya) jika kamu orang-orang beriman.” (Q.S Ali Imran:
139).
Akan tetapi, setiap daripada manusia
pasti pernah mengalami suatu saat yang dinamakan lemah semangat. Kurang
motivasi dan tidak bertenaga untuk melakukan sesuatu. Ada masa rasa sangat
bermotivasi untuk belajar, bekerja, bermain dan sebagainya. Ada masa juga lemah dan tidak bersemangat yang dikenal
dengan istilah al-futur. Hal ini sungguh sangat marak terjadi di
kalangan pelajar tepatnya pada dunia putih abu-abu (SMA).
A.
Definisi Al-Futur
Secara bahasa
kata Al-Futur merupakan bentuk jamak dari kata fatara berarti lemah
dalam sesuatu. Sebagaimana firman Allah dalam Q.S Az-Zukhruf: 75.
(لا يُفَتَّرُ عَنْهُمْ), mereka berputus asa di dalamnya.
Sedangkan secara
istilah ialah suatu keadaan yang menunjukkan lemahnya semangat. Adapun definisi
lemah semangat adalah tidak memiliki daya dorong yang kuat atau mudah terserang
penyakit.
Berangkat
dari Q.S Az-Zukhruf: 75, adapun penafsiran ulama dengan mengaitkannya hingga
ayat 78 ialah “Setelah Allah menerangkan suasana yang dialami oleh orang-orang
yang bahagia, maka Allah melanjutkan dengan menerangkan suasana yang dialami
oleh orang-orang yang ditimpa kemalangan. Allah befirman, “Sesungguhnya
orang-orang yang berdosa kekal di dalam azab neraka Jahannam. Tidak diringankan
azab itu dari mereka, “walaupun sekejap dan mereka di dalamnya berputus asa
dari semua kebajikan. Dan tidaklah kami menganiaya mereka tapi merekalah yang
menganiaya diri mereka sendiri. Dengan perbuatan-perbuatan mereka yang buruk
setelah hujjah ditegakkan atas mereka dan para utusan dikirimkan kepada mereka,
kemudian mereka mendustakan dan durhaka. Oleh karena itu mereka dibalas dengan
balasan yang setimpal. Dan tuhanmu tidak pernah menzalimi hamba-hamba-Nya
walaupun sedikit. “Mereka berseru, hai Malik,” yaitu malaikat penjaga neraka.
“Biarlah Tuhanmu membunuh kamisaja.” Yakni, biarlah dia mencabut nyawa-nyawa
kami sehingga kami dapat beristirahat dari apa yang kini kami rasakan, karena
mereka itu adalah sebagaiman telah difirmankan-Nya, “Mereka tidak dibinasakan
sehingga mereka mati dan tidak pula diringankan dari mereka azab-Nya.”(Fatir:
36) Maka perkataan itu dijawab oleh Malik, “Kamu akan tetap tinggal.” Yaitu,
kamu tidak akan dikeluarkan dari neraka ini dan kamu tidak akan mendapatkan
tempat berlari daripadanya.
Kemudian Allah SWT menerangkan apa yang
menjadi penyebab kemalangan mereka itu, yaitu sikap mereka yang selalu menentang
kebenaran. Maka Allah berfirman, “ Sesungguhnya kamu benar-benar telah membawa
kebenaran kepada kamu.” Yakni kami telah menerangkan, menjelaskan, dan
menafsirkannya kepada kamu, “tetapi kebanyakan di antara kamu membenci
kebenaran itu.” Yakni, akan tetapi sudah
menjadi watak kamu untuk tidak menerima kebenaran. Tabiat kamu selalu
menggiring kamu kepada kebatilan dan menghalangi dari jalan kebenaran. Oleh
karena itu cercalah diri-diri kamu. Namun, betapa terlambatnya penyesalan itu.
Penyesalan tidak akan berguna dan cercaan tidak akan bermanfaat.”
B.
Sebab-Sebab Munculnya Al-Futur.
Adapun penyebab munculnya Al-Futur ini
antara lain adalah kelesuan rohani, keadaan fisik yang tidak normal, pengaruh
lingkungan, kurangnya pendidikan dan faktor
keturunan.
1. Yang
menjadi induk ialah kelesuan rohani. Sebagaimana hadits yang menerangkan bahwa:
حَدَّثَنَا
أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِى شَيْبَةَ وَابْنُ نُمَيْرٍ قَالاَ حَدَّثَنَا عَبْدُ
اللَّهِ بْنُ إِدْرِيسَ عَنْ رَبِيعَةَ بْنِ عُثْمَانَ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ
يَحْيَى بْنِ حَبَّانَ عَنِ الأَعْرَجِ عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ
اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « الْمُؤْمِنُ الْقَوِىُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى
اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِى كُلٍّ خَيْرٌ احْرِصْ عَلَى مَا
يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ وَإِنْ أَصَابَكَ شَىْءٌ فَلاَ
تَقُلْ لَوْ أَنِّى فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا. وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللَّهِ
وَمَا شَاءَ فَعَلَ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ
Artinya:
"Mukmin
yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah.
Namun masing-masing ada kebaikan. Semangatlah meraih apa yang manfaat untukmu
dan mohonlah pertolongan kepada Allah, dan jangan bersikap lemah. Jika engkau
tertimpa suatu musibah janganlah mengatakan, "Seandainya aku berbuat
begini dan begitu, niscaya hasilnya akan lain." Akan tetapi katakanlah,
"Allah telah mentakdirkannya, dan apa yang Dia kehendaki Dia
Perbuat." Sebab, mengandai-andai itu membuka pintu setan." (HR.
Muslim)
Nabi Shallallahu
'Alaihi Wasallam memerintahkan setiap mukmin, baik yang kuat maupun yang
lemah, untuk bersemangat dalam mencari apa yang manfaat untuk dirinya dari
urusan dunia dan akhiratnya. Namun tidak boleh lupa terhadap kuasa Allah dengan
senantiasa meminta pertolongan kepada-Nya dalam menjalankan usaha tersebut.
"Semangatlah meraih apa yang manfaat untukmu dan mohonlah pertolongan
kepada Allah, dan jangan bersikap lemah."
Syaikh
Abdurrahman bin Hasan Alu Syaikh menjelaskan maksud hadits di atas, "Dan
maksudnya: bersemangat dalam menjalankan sebab yang bermanfaat bagi hamba dalam
urusan dunia dan akhiratnya dari sebab-sebab yang wajib, sunnah, dan mubah yang
telah Allah syariatkan. Lalu dalam mengerjakan sebab tersebut, hamba tadi
meminta tolong kepada Allah semata, tidak kepada selain-Nya, agar sebab itu
menghasilkan dan memberi manfaat. Bersandarnya hanya kepada Allah Ta'ala dalam
mengerjakannya. Karena Allah lah yang menciptakan sebab dan akibatnya. Suatu
sebab tidak akan berguna kecuali jika Allah mengizinkannya. Sehingga hanya
kepada Allah Ta'ala semata ia bertawakkal dalam mengerjakan sebab. Karena
mengerjakan sebab adalah sunnah, sementara tawakkal adalah tauhid. Jika ia
menggabungkan keduanya, maka akan terwujud tujuannya dengan izin Allah."
(Fath al-Majid: 560)
Usaha dan
isti'anah harus terus dilakukan, tidak boleh melemah karena malas, putus
harapan, perkataan orang, perasaan tidak enak, mitos atau sebab yang tak jelas
lainnya. Karena ada sebagian orang yang sudah bersemangat menggapai apa yang
dibutuhkannya dan disyariatkan kepadanya, lalu ia melemah dan malas sehingga
meninggalkan amal tersebut. Manfaat dan mashlahat yang dibutuhkannya hilang
begitu saja sehingga ia menjadi manusia merugi.
2.
Tabiat/ watak asli
Ada sebagian orang yang memang
memiliki tabi'at/watak asli yang buruk, rendah, suka iri dan dengki terhadap
orang lain. Tabi'at ini lebih mendominasi pada diri orang tersebut, sehingga
terkadang pendidikan yang diperolehnya sama sekali tidak mempengaruhi
perilakunya.
3.
Lingkungan
Lingkungan memberikan dampak yang
sangat kuat bagi perilaku seseorang, karena seperti dikatakan pepatah bahwa
seseorang adalah anak lingkungannya. Kalau dia hidup dan terdidik dalam
lingkungan yang tidak mengenal makna adab dan akhlak serta tidak tahu tujuan
hidup yang mulia, maka akhlaknya akan rusak sebagai mana hasil didikan
lingkungannya.
C.
Efek Al-Futur bagi pribadi dan
masyarakat.
Semangat yang lemah
merupakan sifat orang-orang munafik dan yang ketinggalan perang, yang merasa
senang duduk di belakang Rasulullah mereka berkata dalam QS. at-Taubah : 81
لاَتَنفِرُوا فِي
الْحَرِّ
Terjemahnya:
“Janganlah
kamu berangkat (pergi berperang) dalam panas terik ini"
Benarlah ucapan Sayyid
Quthb, ia berkata: 'Barisan yang diisi oleh orang-orang yang lemah tidak akan
bisa bertahan kuat, karena sesungguhnya mereka
akan mengecewakan di saat susah.
Karena itulah semangat tinggi harus menjadi sifat mendasar dalam
perilaku penganut agama ini agar mereka lebih mampu bersikap teguh, tegar dan
berdiri tegak.
Menunda adalah salah
satu gambaran kelemahan manusia yang terkadang menghinggapi orang yang
mempunyai semangat, maka ia kehilangan banyak kebaikan. Inilah yang membakar
hati Ka'ad bin Malik ketika ketinggalan perang bersama Rasulullah r
dalam perang Tabuk. Dia dalam kondisi tenang karena dia sudah siap dan sudah
mempunyai bekal. Kemudian dia menceritakan tentang dirinya bahwa dia bisa
menyusul. Kemudian ia berkata: “Tentara telah berangkat dan aku berniat untuk
berangkat hingga bisa menyusul mereka andaikan aku melakukannya namun aku tidak
ditakdirkan melakukan hal itu…”
setelah itu Ka'ab hidup dalam perasaan tersiksa jiwanya hingga saat Rasulullah
pulang, kemudian 50 hari dikucilkan, hingga turun taubatnya. Dia menjalani
hidup yang sempit sebagai dampak keterlambatan padanya atau menunda pekerjaan.
D.
Kiat-kiat mengatasi Al-Futur.
1.
Membekali
Diri Dengan Ilmu Agama
Orang yang berilmu itu lebih dahsyat dirasakan
beratnya oleh setan daripada ahli ibadah yang yang tak berilmu. Tipu daya setan
lemah di hadapan orang yang berilmu. Muadz bin Jabal Radhiyallahu 'anhu
mengatakana,"Ia (ilmu) adalah teman dalam keadaan bahagia dan kesusahan,
serta senjata di hadapan musuh".
2.
Memanjatkan
Doa.
Seberat
apapun masalah yang sedang menimpa, seorang hamba tidak sepantasnya berputus
harapan dari rahmat Allah. Semua permasalahan yang menghimpitnya harus
dikembalikan kepada Allah. Kita wajib bersimpuh memanjatkan doa, berupaya
sekuat-kuatnya dan bersabar. Dengan harapan, Allah akan melenyapkan kesusahan
ataupun cobaan yang sedang menimpa. Jika menelaah perjalanan hidup
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, para sahabat serta generasi Salaf,
kita akan mengetahui betapa mereka sangat bertumpu dengan memanfaatkan kekuatan
doa. Betapa mengagumkan, dan sekaligus membuka tabir, bahwa diri kita kurang
menekuni ibadah yang satu ini.
Tentunya, doa ini harus dibarengi juga dengan
upaya memperbaiki diri. Sebab, bisa jadi, kegagalan atau musibah yang menimpa
seorang hamba, lantaran kurangnya ia dalam memperhatikan aturan Allah.
3.
Meneguhkan Tawakkal Kepada Allah Swt.
Kekuatan yang hakiki adalah kekuatan
hati dan kemampuan untuk bertahan diri. Menurut Ibnul Qayyim rahimahullah,
sesungguhnya tawakkal termasuk salah satu faktor yang kuat dalam membantu
mewujudkan cita-cita (keinginan) dan menepis perkara yang tidak disukai. Ia
merupakan motivasi yang paling kuat. Hakikat tawakkal, ialah ketergantungan
hati hanya kepada Allah semata. Usaha yang dilakukan tidak memiliki pengaruh,
jika hati kosong dari penyerahan diri kepada Allah dan bahkan cenderung kepada
selainNya. Sebagaimana tidak bermanfaat perkataan orang “aku bertawakkal
kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, tetapi, ternyata dirinya sangat tergantung,
pasrah dan percaya kepada selainNya. Tawakkal pada mulut memiliki makna
sendiri, dan tawakkalnya hati mempunyai makna yang lain. Oleh karena itu, al Hasan Bashri
mengatakan : Sesungguhnya, tawakkal seorang hamba kepada Rabb-nya adalah, ia
meyakini bahwa Allah itu menjadi sumber kepercayaan dirinya. Dalam
kesempatan lain, beliau menyatakan, Allah menjamin rezeki bagi hamba yang
menyembahNya, dan kemenangan bagi orang yang bertawakkal dan memohon
pertolongan kepada-Nya, serta kecukupan bagi orang yang menjadikan Allah
sebagai pusat dan tujuan utama. Orang yang cerdas lagi pintar, ia akan
memikirkan perintah Allah, pelaksanaannya dan taufik dariNya, bukan menunggu-nunggu
jaminan dari Nya. Sesungguhnya Allah menepati janji lagi jujur.
4.
Memiliki
Tekad Yang Tinggi.
Seorang
hamba akan mendapatkan sesuatu sesuai dengan kadar tekad dan semangatnya. Orang
yang benar-benar ingin menggapai satu tujuan, pasti akan mengoptimalkan segala
daya upaya dalam mewujudkannya. Segala yang berpotensi menghalangi
pencapaiannya, akan disingkirkan, demi mempercepat dan melempangkan jalan
menuju tangga kesuksesan yang selama ini diidamkannya. Detik-detik waktunya
selalu disibukkan dengan hal tersebut. Mencari-cari kesempatan dan sarana yang
bisa membantu pencapaian keberhasilannya. Pikiran dan kata hatinya juga larut
dengannya. Karena ia mengetahui, keberhasilan sesuai dengan kepenatan yang
dilalui.
5.
Menelaah
Biografi Salaful Ummah.
Yang
dimaksud dengan Salaful Ummah, yaitu para sahabat Nabi dan orang-orang yang
mengikuti mereka dengan baik. Generasi pertama, para pembela Islam dan pemikul
risalah kepada generasi berikutnya. Mereka adalah manusia yang paling kuat
keimanannya, paling bersih hatinya, paling tinggi tingkat tawakkalnya kepada
Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Jika menyelami kisah hidup mereka yang penuh
cahaya, kita akan berkesimpulan, bahwa perjalanan hidup mereka tidak selalu
mulus, penuh ujian dan pengorbanan disertai ketabahan yang tinggi saat kalah
oleh musuh dalam membela kebenaran. Menelaah peri hidup mereka, akan mampu
menambah keimanan, mencerahkan hati. Juga akan mengantarkan kepada pemahaman,
jika kehidupan itu tidak steril dari onak dan duri. Jalan kehidupan tidak
selalu berhiaskan mawar yang semerbak mewangi, tetapi ada saja halangan dan
ujian menghadang, ataupun mungkin berujung pada kegagalan. Secara umum, Allah menegaskan manfaat kisah-kisah para
nabi dan rasul sebelumnya yang mampu juga meneguhkan hati dan memberikan secercah
harapan.
Sebagaiman firman Allah dalam Q.S Hud: 120.
وَكُلاًّ نَقُصُّ
عَلَيْكَ مِنْ أَنبَآءِ الرُّسُلِ مَانُثَبِّتُ بِهِ فُؤَادَكَ وَجَآءَكَ فِي
هَذِهِ الْحَقُّ وَمَوْعِظَةٌ وَذِكْرَى لِلْمُؤْمِنِينَ
Terjemahnya:
“Dan semua kisah dari rasul-rasul Kami
ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu; dan
dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan
bagi orang-orang yang beriman.”
Perenungan
ini akan memacu semangat baru dalam mengarungi kehidupan yang terjal. Sebab
ternyata ia tidak sendirian mengalami kepahitan, bahkan orang-orang terbaik
yang pernah berjalan di muka bumi ini, semua pernah merasakan kepahitan.
E.
Bentuk dan fenomena Al-Futur dalam masyarakat.
Dikisahkan dari perjalanan hidup Imam
al-Kasai, seorang ulama ahli Nahwu, saat mulai bejalar ilmu Nahwu beliau
mendapati kesulitan sehingga hampir putus asa. Kemudian beliau menemukan seekor
semut membawa makanan ke atas tembok. Setiap semut itu naik sedikit, ia
terjatuh. Begitu berulang-ulang sehingga ia berhasil naik ke atas. Imam
al-Kasai mengambil pelajaran dari semut tersebut, beliau bersungguh-sungguh
dalam belajar sampai menjadi imam besar dalam ilmu Nahwu.
Selain itu, orang-orang yang tidak
lemah/ tidak malas dalam pelaksanaan
puasa dan shalat dapat dikategorikan sebagai mujahid. Sebagaimana yang akan
dijelaskan oleh hadis berikut.
أخبرنا عمر بن سعيد بن
سنان ، - وكان قد صام النهار ، وقام الليل ثمانين سنة غازيا ومرابطا - أخبرنا أحمد
بن أبي بكر ، عن مالك ، عن أبي الزناد ، عن الأعرج ، عن أبي هريرة ، أن رسول الله
صلى الله عليه وسلم قال : « مثل المجاهد في سبيل الله كمثل الصائم القائم الذي لا
يفتر من صيام وصلاة حتى يرجع »
Abu al-husain Ahmad bin Faris bin
Zakariyah, Mu’jam Maqa>yis al-Lughah, Juz 4, Bairut: Dar
al-Fikr, t. th, h. 470.
Depdikbud, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Cet. 3; Jakarta: Balai Pustaka, 1990), h. 254.