STRATEGI
PEMBELAJARAN UNTUK MENGAKTIFKAN INDIVIDU
Disusun dan diaujukan guna memenuhi tugas terstruktur
Mata kuliah : Strategi Pembelajaran PAI
Dosen pengampu : Laela Mardiyah, M. Pd
Disusun oleh :
Miftahul
Qoryah
|
082331092
|
Mualiful
Jamal
|
082331094
|
Mudiyanto
|
082331095
|
Nina
Laela
|
082331111
|
Novita Kristiana
|
082331113
|
Oka Wahyu
P
|
082331121
|
Resti
Mitasari
|
082331127
|
SEKOLAH
TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN)
PURWOKERTO
2011
PENDAHULUAN
Pembelajaran pada
dasarnya merupakan upaya untuk mengarahkan anak didik ke dalam proses belajar
sehingga mereka dapat memperoleh tujuan belajar sesuai dengan apa yang
diharapkan. Pembelajaran hendaknya memperhatikan kondisi individu anak karena
merekalah yang akan belajar. Anak didik merupakan individu yang berbeda satu
sama lain, memiliki keunikan masing-masing yang tidak sama dengan orang lain
Pembelajaran yang kurang memperhatikan perbedaan individual anak dan
didasarkan pada keinginan guru, akan sulit untuk dapat mengantarkan anak didik
ke arah pencapaian tujuan pembelajaran. Kondisi seperti inilah yang pada
umumnya terjadi pada pembelajaran konvensional. Konsekuensi dari pendekatan
pembelajaran seperti ini adalah terjadinya kesenjangan yang nyata antara anak
yang cerdas dan anak yang kurang cerdas dalam pencapaian tujuan pembelajaran.
Kondisi seperti ini mengakibatkan tidak diperolehnya ketuntasan dalam belajar,
sehingga sistem belajar tuntas terabaikan. Hal ini membuktikan terjadinya
kegagalan dalam proses pembelajaran di sekolah.
Menyadari kenyataan
seperti ini para ahli berupaya untuk mencari dan merumuskan strategi yang dapat
merangkul semua perbedaan yang dimiliki oleh anak didik. Salah satu strategi
pembelajaran yang ditawarkan adalah strategi belajar/ pembelajaran untuk
mengaktifkan individu.
A. Pengertian Strategi
Pembelajaran Aktif
Pembelajaran aktif (active learning) dimaksudkan untuk mengoptimalkan
penggunaan semua potensi yang dimiliki oleh anak didik, sehingga semua anak
didik dapat mencapai hasil belajar yang memuaskan sesuai dengan karakteristik
pribadi yang mereka miliki. Di samping itu pembelajaran aktif (active learning)
juga dimaksudkan untuk menjaga perhatian siswa/anak didik agar tetap tertuju
pada proses pembelajaran.
Beberapa penelitian membuktikan bahwa
perhatian anak didik berkurang bersamaan dengan berlalunya waktu. Kondisi
tersebut di atas merupakan kondisi umum yang sering terjadi di lingkungan
sekolah. Hal ini menyebabkan seringnya terjadi kegagalan dalam dunia pendidikan
kita, terutama disebabkan anak didik di ruang kelas lebih banyak menggunakan
indera pendengarannya dibandingkan visual, sehingga apa yang dipelajari di
kelas tersebut cenderung untuk dilupakan. Sebagaimana yang diungkapkan
Konfucius:
Apa yang saya dengar, saya lupa
Apa yang saya lihat, saya ingat
Apa yang saya lakukan, saya paham
Ketiga pernyataan ini menekankan pada
pentingnya belajar aktif agar apa yang dipelajari di bangku sekolah tidak
menjadi suatu hal yang sia-sia. Ungkapan di atas sekaligus menjawab
permasalahan yang sering dihadapi dalam proses pembelajaran, yaitu tidak
tuntasnya penguasaan anak didik terhadap materi pembelajaran.
Mel Silberman (2001) memodifikasi dan memperluas pernyataan
Confucius di atas menjadi apa yang disebutnya dengan belajar aktif (active
learning), yaitu [1]:
Apa yang saya dengar, saya
lupa
Apa yang saya dengar dan
lihat, saya ingat sedikit
Apa yang saya dengar, lihat
dan tanyakan atau diskusikan dengan beberapa teman lain, saya mulai paham
Proses pembelajaran pada dasarnya merupakan pemberian
stimulus-stimulus kepada anak didik, agar terjadinya respons yang positif pada
diri anak didik. Kesediaan dan kesiapan mereka dalam mengikuti proses demi
proses dalam pembelajaran akan mampu menimbulkan respons yang baik terhadap
stimulus yang mereka terima dalam proses pembelajaran. Active learning (belajar
aktif) pada dasarnya berusaha untuk memperkuat dan memperlancar stimulus dan
respons anak didik dalam pembelajaran, sehingga proses pembelajaran menjadi hal
yang menyenangkan, tidak menjadi hal yang membosankan bagi mereka. Dengan
memberikan strategi active learning (belajar aktif) pada anak didik dapat
membantu ingatan (memory) mereka, sehingga mereka dapat dihantarkan kepada
tujuan pembelajaran dengan sukses. Hal ini kurang diperhatikan pada
pembelajarankonvesional
Dalam metode active learning (belajar aktif) setiap materi pelajaran yang baru harus dikaitkan dengan berbagai pengetahuan dan pengalaman yang ada sebelumnya. Materi pelajaran yang baru disediakan secara aktif dengan pengetahuan yang sudah ada. Agar murid dapat belajar secara aktif guru perlu menciptakan strategi yang tepat guna sedemikian rupa, sehingga peserta didik mempunyai motivasi yang tinggi untuk belajar. (Mulyasa, 2004:241)[2].
Dari uraian di atas dapat dijelaskan beberapa perbedaan antara pendekatan pembelajaran Active learning (belajar aktif) dan pendekatan pembelajaran konvensional, yaitu :
Dalam metode active learning (belajar aktif) setiap materi pelajaran yang baru harus dikaitkan dengan berbagai pengetahuan dan pengalaman yang ada sebelumnya. Materi pelajaran yang baru disediakan secara aktif dengan pengetahuan yang sudah ada. Agar murid dapat belajar secara aktif guru perlu menciptakan strategi yang tepat guna sedemikian rupa, sehingga peserta didik mempunyai motivasi yang tinggi untuk belajar. (Mulyasa, 2004:241)[2].
Dari uraian di atas dapat dijelaskan beberapa perbedaan antara pendekatan pembelajaran Active learning (belajar aktif) dan pendekatan pembelajaran konvensional, yaitu :
Perbedaan Pembelajaran Konvensional dengan Pembelajaran Active learning
:
- Berpusat pada guru
- Berpusat pada guru
Berpusat pada anak didik
- Penekanan pada menerima pengetahuan
- Penekanan pada menerima pengetahuan
Penekanan pada menemukan
- Kurang menyenangkan
- Kurang menyenangkan
Sangat menyenangkan
- Kurang memberdayakan semua
- Kurang memberdayakan semua
Membemberdayakan semua
- Indera dan potensi anak didik
- Indera dan potensi anak didik
indera dan potensi anak didik
- Menggunakan metode yang monoton
- Menggunakan metode yang monoton
Menggunakan banyak metode
- Kurang banyak media yang digunakan
- Kurang banyak media yang digunakan
Menggunakan banyak media
- Tidak perlu disesuaikan dengan pengetahuan yang sudah ada.
- Tidak perlu disesuaikan dengan pengetahuan yang sudah ada.
Disesuaikan dengan pengetahuan yang sudah ada
Strategi dalam dunia pendidikan, memiliki
arti sebagai a plan method, or series of activities designed to achieves a
particular educational goal ( J. R David, 1976). Jadi strategi dapat di
artikan sebagai perencanaan yang berisi tentang rangkaian kegiatan yang di
desain untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu[3].
Dari apa yang telah di sampaikan di atas,
ada kesimpulan yang dapat di ambilantaranya. Yang pertama, strategi
pembelajaran merupakan rencana tindakan (rangkaian kegiatan) termasuk
penggunaan metode dan pemanfaatan berbagai sumber daya atau kekuatan dalam
pembelajaran. Selanjutnya, strategi di susun untuk mencapai tujuan tertentu.
Pada dasarnya, arah dari semua keputusan strategi adalah pecapaian tujuan[4].
B.
Karakteristik Peserta
Didik
Sifat dan perilaku siswa dapat di bedakan menjadi beberapa bagian[5]:
a.
Siswa Pendiam atau Pemalu
Siswa ini tidak banyak aktivitas fisiknya,
selalu menurut perintah guru, cenderung diam dan tidak suka bertanya atau
cenderung pasif. Guru terkadang sulit sulit mengidentifikasi siswa yang
mempunyai karakteristik seperti ini, oleh karena itu guru harus sering bertanya
dan memberi kesempatan pada siswa ini agar dia lebih aktif, tidak malu bertanya
dan berani menampilkan diri.
b.
Siswa Perenung
Selain siswa pendiam terdapat pula siswa yang
perenung, suka melamun, dan tidak berkosentrasi. Biasanya siswa ini prestasinya
kurang begitu baik. Guru harus memperhatikan siswa yang seperti ini, dengan
cara banyak bertanya dan member perintah secara khusus.
c.
Siswa super aktif
Siswa yang super aktif dan bersifat negative
adalah siswa yang mengganggu kondisi belajar teman – temannya di kelas dan
merusak konsentrasi. Selain itu siswa ini juga berperilaku seperti menarik
perhatian guru dan temannya yang lain dan berbuat sesuatu hal yang aneh dan
berbuat sesuai kemauannya sendiri. Siswa seperti ini ada kecenderungan untuk
tidak serius mengerjakan tugas yang di berikan guru. Maka siswa seperti itu
harus di beri bimbingan dan konseling dan penanggulangan khusus.
d.
Siswa malas
Siswa pemalas biasanya mengikuti sifat
perenung. Gejala sifat malas ini antara lain jarang mengerjakan tugas,
pekerjaan rumah, mengabaikan kebersihan kelas, dan kebersihan diri sendiri.
Selain itu kurang disiplin dan sering terlambat.
C.
Strategi untuk
mengaktifkkan Individu.
Pada proses pelaksanaan pembelajaran,
seorang pendidik harus mampu mengaktifkan peserta didik dalam pembelajarannya.
Berikut, ini strategi pembelajaran aktif untuk mengaktifkan peserta
didik/individu[6] :
1.
Memberikan pertanyaan yang
merangsang siswa berpikir dan berproduksi.
Pertanyaan dapat membuat atau merangsang siswa berpikir. Merangsang
berpikir dalam arti merangsang siswa menggunakan gagasan sendiri dalam
menjawabnya bukan mengulangi gagasan yang sudah di kemukakan guru. Kategori
pertanyaan yang masuk kategori pertanyaan ini antara lain, pertanyaan
produktif, terbuka dan imajinatif. Pertanyaan ini dapat merangsang siswa
berpikir.
2.
Penyediaan umpan balik yang
bermakna
Umpan balik adalah respon atau reaksi guru
terhadap perilaku siswa. Apa
yang di lakukan guru ketika siswa bertanya?
Ketika siswa berpendapat? Ketika siswa menunjukan hasil kerja? Ketika siswa
membuat kesalahan? Umpan balik yang baik adalah respon guru yang tidak memvonis
“Salah”!, “Bukan”!, “Tidak”. “Baik” atau “Betul merupakan umpan balik yang
memvonis. Umpan balik yang memvonis menjadikan siswa bergantung pada guru.
Ucapan siswa yang berbunyi : “Pak/Bu, ini betul tidak? Ini boleh tidak?
Merupakan ungkapan yang menunjukan ketergantungan siswa kepada guru. Mereka
tidak dapat atau tidak berani memutuskan atau menilai sendiri apa yang di
lakukannya. Sedangkan umpan balik yang tidak memvonis membuat siswa merasa di
hargai, dapat berpikir, dan bertanggung jawab untuk menilai mutu gagasan
sendiri.
Di samping ada dua hal tersebut, strategi
pembelajaran yang dapat di aplikasikan guru untuk mengaktifkan individu.
a.
Strategi membaca denga keras
(reading alone)
Membaca suatu teks dengan keras dapat
membantu siswa memfokuskan perhatian secara mental, menimbulkan pertanyaan, dan
merangsang diskusi. Prosedur dari strategi ini adalah sebagai berikut :
1). Guru memilih suatu teks yang cukup
menarik untuk di baca dengan keras, misalnya tentang manasik haji. Guru
hendaknya membatasi bacaan yang harus di baca oleh peserta didik.
2). Guru menjelaskan teks itu pada peserta didik secara singkat.
Guru menjelaskan poin-poin kunci atau masalah – masalah pokok yang dapat di
angkat.
3). Guru membagi bacaan teks ituu dengan
alinea-alinea atau beberapa cara l ainnya.
Guru menyuruh sukarelawan untuk membaca keras teks-teks tersebut.
4). Ketika bacaan – bacaan tersebut berjalan, guru menghentikan di
beberapa bagian yang di anggap penting untuk menekan poin – poin tertentu dan
munculkan beberapa pertanyaan atau berikan contoh – contoh.
b.
Setiap orang adalah guru
(everyone is a teacher here)
Ini merupakan strategi yang mudah guna memperoleh
partisipasi kelas yang besar dan tanggung jawab individu. Strategi ini
memberikan kesempatan pada setiap peserta didik untuk bertindak sebagai seorang
“ pengajar” terhadap peserta didik yang lain. Prosedur dari strategi ini adalah
:
1). Guru membagikan kartu kepada kepada setiap peserta didik. Guru
meminta peserta didik untuk menulis sebuah pertanyaan yang mereka miliki
tentang materi yang sedang di pelajari di dalam kelas atau topic khusus yang
akan mereka diskusikan di dalam kelas. Misalnya ketika materi pelajaran tentang
puasa maka mereka membuat pertanyaan yang berkaitan dengan puasa.
2). Guru mengumpulkan kartu, mengocok dan membagikan satu persatu
kartu tersebut kepada setiap peserta didik. Guru meminta peserta didik membaca
dalam hati pertanyaan ataupun topic yang ada dalam kartu dan pikirkan satu
jawaban.
3) Guru memanggil sukarelawan untuk membaca dengan keras kartu yang
mereka dapat dan member respon.
4) Setelah melanjutkan proses itu selama masih ada sukarelawan.
c.
Menulis pengalaman secara
langsung (writing in the here and now)
Menulis membantu peserta didik merefleksikan pengalaman – pengalaman
yang telah mereka alami. Prosedur strategi ini adalah :
1)
Guru memilih jenis pengalaman
yang di inginkan untuk di tulis oleh peserta didik, misalnya menceritakan
tentang sholat tarawih
2)
Guru memberikan waktu yang
cukup untuk menulis. Peserta didik tidak merasa buru – buru.
3)
Setelah selesai peserta didik
menulis guru menginformasikan kepada peserta didik tentang pengalaman yang
telah di tulis untuk tujuan refleksi. Guru memberitahukan peserta didik bahwa
cara yang berharga untuk merefleksikan pengalaman adalah dengan mengenangnya.
4)
Guru mendiskusikan hasil tulisan
siswa tersebut bersama – sama
PENUTUP
Strategi Pembelajaran untuk mengaktifkan Individu, untuk era saat
ini sangatlah di tuntut dalam penerapannya. Pembelajaran yang menyenangkan,
inovatif dan kreatif, menjadi salah satu indikasi proses pembelajaran itu akan
tercapai dengan baik. Strategi semacam ini, menjadi bagian terpenting dalam
proses pembelajaran yang mengharapkan adanya output yang signifikan dalam hal
ini peserta didik.
Pembelajaran konvesional yang salah satu indikasinya tidak adanya
feedback dari peserta didik ke pendidik, menjadikan proses pembelajaran ini
jauh dari standar. Peserta didik yang dalam proses pembelajarannya, hanya
mengacu pada transfer pengetahuan tentunya tidak akan cepat berkembang di sisi
pengetahuannya. Karena memang prosesny yang tidak memihak pada kreatifitas
peserta didiknya.
Maka dari itu, sebisa mungkin kita yang nantinya menjadi penerus
guru bangsa kita akan berusaha sebisa mungkin membuat kondisi ruagan sekolah
senyaman mungkin, damai, penuh aura positif, tentunya dengan sedikit aplikasi
dari proses pembelajaran yang berusaha untuk mengaktifkan kreatifitas berpikir
peserta didik.
Akhirnya kami ucapkan Alhamdulillah, dengan di seleskannya makalah
ini, dengan pembahasan Strategi Pembelajaran untuk Mengaktifkan Individu.
Kiranya hanya itu yang dapat kami sajikan,
mudahan dapat menjadi khasanah baru kemajkeilmuan kita. Tak lupa, di
sampaikan maaf, bila mana hasil pembahasan kita ini masih terlalu sempit dan
belum mewakili apa yang menjadi intinya. Mohon maaf
DAFTAR
PUSTAKA
Martins Yamin & Bansu I. Ansari, Taktik
mengembangkan kemampuan Individual siswa. Gaung Persada Press. Jakarta.
Hlm. 25-27
Mulyasa, E., Kurikulum Berbasis
Kompetensi (KBK), Konsep, Karakteristik dan Implementasi, Bandung, Remaja
Rosdakarya, 2004.
Silberman,
Mel, Active Learning, 101 Strategi Pembelajaran Aktif, (terjemahan
Sarjuli et al.) Yogyakarta, YAPPENDIS, 2004.
Wina Sanjaya. Strategi Pembelajaran
berorientasi standar proses pendidikan. Kencana Prenada Group. Jakarta.
2009.hlm. 12
[1] Silberman, Mel, Active Learning, 101 Strategi Pembelajaran Aktif,
(terjemahan Sarjuli et al.) Yogyakarta, YAPPENDIS, 2004.
[2] Mulyasa, E., Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), Konsep,
Karakteristik dan Implementasi, Bandung, Remaja Rosdakarya, 2004.
[3] Wina Sanjaya. Strategi Pembelajaran berorientasi standar proses
pendidikan. Kencana Prenada Group. Jakarta. 2009.hlm. 126
[4] Ibid hlm. 126
[5] Martins Yamin & Bansu I. Ansari, Taktik mengembangkan kemampuan
Individual siswa. Gaung Persada Press. Jakarta. Hlm. 25-27
[6] Ibid. Taktik Mengaktifkan Kemampuan Individual Siswa. Hlm. 31-33.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar