Rabu, 25 Februari 2015

SIKAP MALU


Malu karena Kebajikan, Pantaskah?
Di era modernisasi ini merupakan era  pergeseran sikap dan mentalitas sebagai warga masyarakat untuk dapat hidup sesuai dengan tuntutan masa kini. Namun hal tersebut mengejutkan akibat perpindahan kiblat umat islam dalam artian dahulu meniru kebudayaan yang datang dari Negara belahan timur dan kini telah berada dalam ketakjuban terhadap perkembangan-perkembangan para belahan bumi bagian barat.
Sehingga dalam upaya menyikapi kenyataan yang sangat tragis tersebut dan juga dengan kesaksian terhadap warga Indonesia sendiri dengan maraknya tindak kriminalitas yang terjadi, maka untuk meminimalisasi kenyataan tersebut perlu pembedahan terhadap kualitas moral dan kualitas ibadah seseorang, antara lain karena hilangnya atau menipisnya rasa malu itu. Sebagai seorang muslim kita harus berusaha menumbuhkan dan membudayakan rasa malu itu. Sebab sifat malu itu kata Nabi Saw, tidak datang kepada seseorang, kecuali membawa kebaikan dan kemaslahatan baginya.
Sifat malu, seperti disebut dalam banyak hadis, merupakan bagian dari pada iman. Sebagai bagian dari pada iman, sifat malu dapat diidentifikasikan sebagai salah satu kekuatan moral yang akan membentengi manusia dari berbagai keburukan dan kejahatan. Untuk itu, tak heran bila pembudayaan sifat malu itu menjadi salah satu misi kenabian.
A.            Definisi Malu dan Iman
Dalam bahasa Arab, kata al-haya>’ (sifat malu) itu berasal dari kata al-haya>h’ yang secara harfiah berarti hidup. Ini mengandung makna bahwa sifat malu itu bergantung pada hidupnya hati dan jiwa seseorang (haya>h al-qalb). Semakin hidup rohani dan jiwa manusia, semakin tinggi dan besar pula sifat manusia yang dimiliki.[1] Menurut ibnu Qayyim al-Jauziyah, sifat malu itu banyak jenis dan macamnya. Namun, yang terpenting dari semua itu adalah dua macam sifat malu yang perlu terus dipupuk dan dipelihara oleh manusia, yaitu sifat malu kepada diri sendiri dan malu kepada Sang Pencipta.[2]
 Banyak definisi malu yang diberikan para ulama, seperti Al-Junaid yang berkata, “karena melihat berbagai macam karunia dan melihat keterbatasan diri sendiri, maka di antara keduanya muncul suatu keadaan yang disebut malu. Hakikatnya adalah akhlak yang mendorong untuk meninggalkan keburukan dan mencegah pengabaian dalam memenuhi hak Allah.”
Sebagian orang arif berkata, “hidupkanlah rasa malu dengan berkumpul dengan orang-orang yang memiliki rasa malu. Hidupkanlah hati dengan kemuliaan dan rasa malu. Jika keduanya hilang dari hati, maka di dalamnya tidak ada kebaikan yang menyisa.” ```
Dalam atsar Ilahy Allah berfirman, “Wahai anak Adam, kamu tidak merasa malu kepada-Ku. Aku sudah membuat manusia lupa aibmu, Aku telah mambuat bumi lupa dosa-dosamu, dan Aku menghapus dari induk kitab kesalahan-kesalahanmu. Jika tidak, tentu aku akan menghisabmu pada hari kiamat.”
Al-Fudhail bin Iyadh berkata, “Lima tanda penderitaan: kekerasan hati, kejumudan mata, sedikit malu, keinginan terhadap dunia dan angan-angan yang muluk-muluk.”
Dalam atsar Ilahy kembali disebutkan, “Hambaku benar-benar tidak adil terhadap-Ku. Ia berdoa kepada-Ku dan aku malu untuk tidak memperkenankannya, namun dia durhaka kepada-Ku dan dia tidak malu kepada-Ku.” Malunya Allah terhadap hamba tidak bisa diketahui melalui suatu pemahaman dan tidak bisa digambarkan akal, karena itu merupakan rasa malu yang timbul dari kemurahan hati, kebajikan dan keagungan. Yang pasti Allah merasa malu terhadap hamba-Nya, jika hamba itu menengadah tangan lalu kembali dengan hampa.[3]
Dari pembahasan-pembahasan di atas dapat dikorelasikan antara keimanan dan rasa malu dengan berdasar kepada hadis-hadis. Seperti:
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ قَالَ أَخْبَرَنَا مَالِكُ بْنُ أَنَسٍ عَنِ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ سَالِمِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - مَرَّ عَلَى رَجُلٍ مِنَ الأَنْصَارِ وَهُوَ يَعِظُ أَخَاهُ فِى الْحَيَاءِ ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - « دَعْهُ فَإِنَّ الْحَيَاءَ مِنَ الإِيمَانِ[4]
Artinya:
“Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Yusuf berkata telah mengabarkan kepada kami Malik bin Anas dari Ibnu Shihab dari Salim bin Abdullah dari ayahnya, sesungguhnya Rasulullah Saw melewati seseorang yang sedang menasehati saudaranya karena malu, maka Nabi Saw bersabda, “Biarkanlah ia karena sesungguhnya malu itu sebagian dari iman.” (HR. Bukhari)
Kata يعظ dalam hadis tersebut menerangkan sesuatu kerusakan yang secara pasti akan menimpanya, kata الحياء menunjukkan sifat menetap dalam jiwa yang mencegah dilakukannya perbuatan jelek. Sedangkan kata دعه mengisyaratkan bahwa tahanlah dari melarangnya dan biarkanlah ia menetapi rasa malunya, karena hal itu ditimbulkan dari sebagian rasa keimanannya.
Selain itu, rasa malu itu merupakan sifat yang utama. Ia merupakan bagian dari kesempurnaan iman. Karena orang yang memiliki sifat malu akan menjauhkan dirinya dari perilaku kurang baik dan membangkitkan untuk selamanya berbuat baik dan taat. Sedangkan dalam hadits riwayat Muslim dari Abu Hurairah dinyatakan bahwa malu (al-haya>) merupakan satu cabang dari 77 cabang keimanan, dengan ungkapan malu itu sebagian cabang dari iman. Ia sejajar dengan kewajiban shalat lima waktu, menunaikan zakat, berhaji, menjaga farj (kemaluan), dan yang lainnya.
Dalam riwayat Al-Tirmidzi, bersumber dari riwayat Abdullah Ibn Mas’ud diceritakan tentang kriteria hakikat malu ini, yaitu: menjaga kepala dan sesuatu   yang ada di dalamnya, menjaga perut dan sesuatu yang dikandungnya, senantiasa ingat mati serta ingat kehancuran fisik (tubuh), dan meninggalkan hiasan duniawi guna memperoleh kebaikan di akhirat.[5]
Selain itu, kata iman jika ditinjau dalam bahasa Arab Iman berarti mengetahui, mempercayai dan menjadi yakin tanpa keraguan sedikitpun. Dengan demikian iman berarti keyakinan yang tidak tergoyahkan yang timbul berdasar pengetahuan dan kepercayaan. Seseorang yang mengetahui dan percaya kepada Allah, sifat-sifat-Nya, hukum-hukum-Nya disebut mukmin. Kepercayaan ini membimbing manusia menjadi taat dan menyerahkan diri kepada kehendak-Nya. Dan manusia yang menjalankan ini disebut muslim. Dapatlah dikatakan bahwa ajaran yang dibawa Nabi Muhammad yang paling fundamental. Hal ini ditunjukkan dengan kalimat tauhid dalam islam la>ilaha illaallah. Kalimat ini menjadi landasan, dasar dan inti islam, yang membedakan manusia menjadi seorang mukmin atau kafir. Pengakuan atau penolakan terhadap kalimat tauhid/syahadat membedakan antara manusia muslim dan non muslim.
Iman merupakan masalah hati nurani atau hati dan pikiran. Tetapi ia harus bermuara dalam tindakan. Al-Quran selalu menggandengkan iman dengan amal  beriman shaleh ketika berbicara tentang iman itu sendiri, atau lebih sering ketika menyebut keadaan orang beriman dan menyebut iman saja tanpa amal shaleh. Sebaliknya, amal shaleh yang sesungguhnya harus bermuara dari iman, amal shaleh yang tidak berakar di dalam iman adalah tindakan yang tidak membuahkan apa-apa. Dapatlah dikatakan bahwa iman atau percaya secara mutlak kepada Allah itu harus mengandung tiga unsur, yaitu: diikrarkan dengan lidah, dikokohkan di dalam hati, dan dilaksanakan dengan anggota badan.[6]
B.            Hakikat Malu.
Malu menurut Imam Ibn Qayyim al-Jauziyyah adalah materi kehidupan hati. Ia merupakan pook dari semua kebaikan. Kehilangannya berarti hilangnya seluruh kebaikan. Ia terbentuk dari kehidupan. Maka siapa pun yang tidak mempunyai rasa malu, maka dia adalah bangkai di dunia dan sengsara di akhirat.[7]
Malu ini ada tiga derajat, yaitu:
1.    Malu yang muncul karena seorang hamba tahu bahwa Allah melihat dirinya, hingga mendorongnya untuk bermujahadah, mencela keburukannya dan membuatnya tidak mengeluh. Selagi seorang hamba bahwa Allah melihat dirinya,, maka hal ini membuatnya malu terhadap Allah, Allah mendorongnya untuk semakin taat. Allah senantiasa melihat hambanya. Jika hati merasa bahwa Allah tidak melihatnya, maka ia tidak merasa malu terhadapnya.
2.      Malu yang muncul karena merasakan kebersamaan denganAllah, sehingga menumbuhkan cinta, merasakan kebersamaan dan tidak suka bergantung kepada makhluk. Kebersamaan dengan Allah ada dua macam yaitu, umum dan khusus. Yang umum ialah kebersamaan ilmu dan keikutsertaan, seperti firman Allah dalam Q.S Al-Hadid: 4
هُوَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ يَعْلَمُ مَا يَلِجُ فِي الْأَرْضِ وَمَا يَخْرُجُ مِنْهَا وَمَا يَنزِلُ مِنَ السَّمَاء وَمَا يَعْرُجُ فِيهَا وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنتُمْ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ ﴿٤﴾
Terjemahnya:
"Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia mengetahui apa yang masuk kedalam bumi dan apa yang keluar dari dalamnya, apa yang turun dari langit dan apa yang naik kesana. Dan dia bersama kamu dimana saja kamu berada. Dan Allah melihat apa yang kamu kerjakan.”[8]

أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مَا يَكُونُ مِن نَّجْوَى ثَلَاثَةٍ إِلَّا هُوَ رَابِعُهُمْ وَلَا خَمْسَةٍ إِلَّا هُوَ سَادِسُهُمْ وَلَا أَدْنَى مِن ذَلِكَ وَلَا أَكْثَرَ إِلَّا هُوَ مَعَهُمْ أَيْنَ مَا كَانُوا ثُمَّ يُنَبِّئُهُم بِمَا عَمِلُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ ﴿٧﴾
Terjemahnya:
“Tidakkah kamu perhatikan, bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi? Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah yang keempatnya. Dan tiada (pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dia-lah yang keenamnya. Dan tiada (pula) pembicaraan antara (jumlah) yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia ada bersama mereka di manapun mereka berada. Kemudian Dia akan memberitakan kepada mereka pada hari kiamat apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Q.S Al-Mujadilah: 7)[9]
Sedangkan kebersamaan yang bersifat khusus ialah kedekatan bersama Allah, seperti firman-Nya, “Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar” (Q.S Al-Baqarah: 153).
Dua makna ini merupakan kesetaraan Allah dengan hamba. Kata مع dalam bahasa Arab berarti kesetaraan dan penggabungan yang selaras tidak mengharuskan adanya percampuran, kedekatan dan berdampingan. Sedangkan kata dekat, tidak disebut dalam Al-Quran kecuali dengan pengertian yang bersifat khusus, yaitu kedekatan Allah dengan orang yang berdoa kepada-Nya, dengan cara mengabulkannya, dan kedekatan Allah dengan orang yang beribadah kepada-Nya, dengan cara memberinya pahala.
3.    Malu yang muncul karena melepaskan ruh dan hati dari makhluk, tidak ada kekhawatiran, tidak ada pemisahan, dan tidak berhenti untuk mencapai tujuan.[10]
C.     Hadis-Hadis tentang Malu
1.      Iman itu terdiri dari lebih dari tujuh puluh bagian
حَدَّثَنَا زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا جَرِيرٌ عَنْ سُهَيْلٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ دِينَارٍ عَنْ أَبِى صَالِحٍ عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم الإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَدْنَاهَا إِماطَةُ الأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الإِيمَانِ[11]
Artinya:
“Telah menceritakan kepada kami Zuhair bin Harbi telah menceritakan kepada kami Jari>r dari Suhail dari Abdillah bin Dinar dari Abu Hurairah ra, dari Nabi Saw, beliau bersabda, “Iman itu terdiri dari lebih dari tujuh puluh bagian yang paling utama ialah perkataan laailaha illallah dan paling rendah ialah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan malu adalah salah satu bagian dari iman.”(HR. Bukhari dan Muslim)
          Dalam hadis ini Allah manjelaskan bahwa keimanan itu tidak hanya satu macam atau satu warna saja melainkan bermacam-macam dan berwarna-warni hingga mencapai tujuh puluh macam lebih. Yang lebih baik ialah kalimat “laa ilaha illallah”. Kalimat ini jika ditimbang dengan langit dan bumi, maka dia lebih berat dari keduanya, karena ini merupakan kalimat ikhlas dan kalimat tauhid. Kalimat yang dengannya kita memohon agar kalimat penutup bagi kehidupan kita. Kemudian Rasulullah Saw bersabda, “Dan malu adalah salah satu bagian dari iman”, dalam hadis lain disebutkan, “Malu adalah sebagian dari iman.” Malu adalah keadaan jiwa tertentu yang muncul karena malu terhadapnya. Malu termasuk akhlak Rasulullah bahkan lebih pemalu daripada para gadis yang malu-malu kucing, hanya saja beliau tidak malu dalam menegakkan kebenaran.[12] Sebagaiman dalam firman Allah dalam QS. Al-Ahzab: 53
وَاللَّهُ لَا يَسْتَحْيِي مِنَ الْحَقِّ
“… Dan Allah tidak malu (menerangkan) yang benar…..”
2.      Malu mendatangkan kebaikan.
حَدَّثَنَا آدَمُ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَبِى السَّوَّارِ الْعَدَوِىِّ قَالَ سَمِعْتُ عِمْرَانَ بْنَ حُصَيْنٍ قَالَ قَالَ النَّبِىُّ صلى الله عليه وسلم الْحَيَاءُ لاَ يَأْتِى إِلاَّ بِخَيْرٍ[13]
Artinya:
“Malu itu tidak mendatangkan sesuatu melainkan kebaikan semata-mata.” (Muttafaq ‘alaihi)
Malu adalah sifat yang ada pada jiwa yang mendorong seseorang untuk melakukan perbuatan yang bisa memperbaiki dan memperindahnya serta meninggalkan hal yang bisa menodai dan memperburuknya. Sehingga engkau jumpai ketika dia melakukan hal yang menyimpang dari syariat dan meninggalkan sesuatu yang seharusnya dia kerjakan akan merasa malu terhadap manusia. Jika dia melakukan hal yang haram dan meninggalkan kewajiban dia merasa malu kepada Allah.[14]
3.      Malu dan Diamnya Lisan

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ مَنِيعٍ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ عَنْ أَبِى غَسَّانَ مُحَمَّدِ بْنِ مُطَرِّفٍ عَنْ حَسَّانَ بْنِ عَطِيَّةَ عَنْ أَبِى أُمَامَةَ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « الْحَيَاءُ وَالْعِىُّ شُعْبَتَانِ مِنَ الإِيمَانِ وَالْبَذَاءُ وَالْبَيَانُ شُعْبَتَانِ مِنَ النِّفَاقِ[15]
Artinya:
“Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Mani’telah menceritakan kepada kami Yazid bin Haru>n dari Abi Gassa>n Muhammad bin Mutharrif dari Hassa>n bin a’ttiyah, rasa malu dan diamnya lisan (karena takut terjatuh pada perkataan haram) adalah bagian dari keimanan. Ucapan cabul dan kefasihan lisan (tetapi bukan dalam hal kebenaran) keduanya adalah bagian dari kemunafikan.” (HR Tirmidzi)
Seseorang yang mempunyai rasa malu, akan taat kepada segala perintah Allah dan menghindar dari segala larangan-Nya, ia memelihara kepalanya, memelihara perut dan isinya dan dia tidak terpedaya dengan hiasan dunia. Orang yang mempunya rasa malu menahan diri dari mengganggu orang lain, dan tidak mau melontarkan kata-kata keji dan buruk. Sebab malu termasuk ke dalam golongan kesempurnaan muru’ah dan kegemaran kepada  sebutan baik. Nabi Muhammad Saw bersabda:
مَنْ اَلْقَى جِلْبَابَ اْلحَيَاءِ فَلاَ غِيْبَةَ لَهُ.
Artinya:
“Barang siapa yang melemparkan pakaian malu dari dirinya maka tidak ada umpatan”. 
   Orang yang mempunyai rasa malu akan memelihara dan membentengi diri dari kecemasan di dalam khalwat. Sebaliknya orang yang tidak mempunyai rasa malu, menjadi kurang muru’ah dan tidak sanggup mengekang nafsu. Seseorang yang telah lengkap padanya seluruh arti malu, maka sempurnalah padanya segala sebab kebajikan dan hilanglah dari padanya segala sebab kejahatan.
4.      Jika tidak malu, lakukanlah apa yang kamu sukai.
حَدَّثَنَا آدَمُ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ مَنْصُورٍ قَالَ سَمِعْتُ رِبْعِىَّ بْنَ حِرَاشٍ يُحَدِّثُ عَنْ أَبِى مَسْعُودٍ قَالَ النَّبِىُّ  صلى الله عليه وسلم إِنَّ مِمَّا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلاَمِ النُّبُوَّةِ إِذَا لَمْ تَسْتَحِى فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ[16]
Artinya:
“Telah menceritakan kepada kami Adam telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Mansur berkata saya telah mendengar Rib’iyyah bin Hirasy sedang menceritakan dari Abi Mas’ud bahwa Nabi Saw berkata, (Ketahuilah) sesungguhnya diantara perkataan para Nabi yang diketahui oleh orang-orang adalah, jika kamu tidak malu, lakukanlah apa yang kamu sukai.”(HR Bukhari)
Ada dua makna berkaitan dengan hadis ini: Pertama, ini merupakan peringatan dan pengabaran, yang artinya: Siapa yang tidak malu tentu akan berbuat sesukanya. Kedua, ini merupakan pembolehan, yang artinya, lihatlah perbuatan yang hendak engkau lakukan. Jika termasuk sesuatu yang tidak mengandung rasa malu, maka lakukanlah.[17]
إِذَا لَمْ تَسْتَحِى فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ  penafsiran yang jelas dan masyhur, yaitu apabila kita tidak malu aib akan terungkap, harga diri akan ternodai karena apa yang kita lakukan, kita bisa mengerjakan semua yang kita inginkan, terlepas hal itu baik atau buruk. Di dalam hadis ini juga mengandung pemberitahuan bahwa rasa malu bisa mencegah manusia dari melakukan keburukan. Jika rasa malu itu lenyap dari manusia, mereka akan melakukan semua bentuk kesesatan dan keburukan.[18]
5.      Rasulullah sangat Pemalu
حَدَّثَنَا عَبْدَانُ أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ أَخْبَرَنَا شُعْبَةُ عَنْ قَتَادَةَ سَمِعْتُ عَبْدَ اللَّهِ هُوَ ابْنُ أَبِى عُتْبَةَ مَوْلَى أَنَسٍ عَنْ أَبِى سَعِيدٍ الْخُدْرِىِّ قَالَ كَانَ النَّبِىُّ صلى الله عليه وسلم أَشَدَّ حَيَاءً مِنَ الْعَذْرَاءِ فِى خِدْرِهَا ، فَإِذَا رَأَى شَيْئًا يَكْرَهُهُ عَرَفْنَاهُ فِى وَجْهِهِ[19]
Artinya:
“Telah menceritakan kepada kami ‘Abda>n telah mengabarkan kepada kami Syu’bah dari Qatadah saya telah mendengar Abdullah dia anak Abu ‘Utbah Maula Anas dari Abu Sa’id Al-Khudri Ra, ia berkata, “Rasulullah itu sangat pemalu, melebihi malunya seorang gadis yang dipingit. Ketika melihat sesuatu yang tidak beliau tidak sukai, kami dapat mengetahui melalui raut wajahnya.” (Muttafaq ‘Alaih)
            Para ulama mengatakan, “ Hakikat malu adalah budi pengerti yang mengajak untuk meninggalkan kejelekan dan mencegah dari mengulangi hak orang lain.” Disebutkan dalam riwayat Abul Qasimal-Junaid ra, ia berkata, “Malu adalah memandang kebaikan dan melihat kekurangan diri sendiri. Dari keduanya, lahirlah perasaan yang disebut malu.”[20]
Dari hadis di atas dapat disimpulkan bahwa Rasulullah adalah orang yang sangat malu, lebih malu dibandingkan gadis perawan yang ada dalam pingitannya. Al-‘Adzra’  (gadis pingitan) adalah wanita yang belum menikah, biasanya mereka sangat malu. Namun nabi lebih malu dibandingkan gadis pingitan dalam pingitannya, Hanya saja be;iau tidak pernah merasa malu untuk menjelaskan kebenaran. Beliau menerangkan dan menjelaskan kebenaran tanpa peduli terhadap seorang pun.
            Adapun dalam hal-hal yang tidak menyia-nyiakan hak maka nabi adalah manusia yang paling malu. Maka hendaknya kita sebagai seorang muslim selalu memiliki sifat malu, adab dan berakhlak dengan akhlak mulia yang terpuji di hadapan manusia.







Ketika Semangat telah Menjadi Problem.
Segala kelemahan pada hakikatnya bersumber dari jiwa manusia itu sendiri. Orang yang berjiwa lemah tidak mempunyai cita-cita yang luhur, tidak memiliki semangat juang dan kosong dari gairah kerja. Perasaan lemah jelas akan merugikan pribadi, malah dipandang sebagai penyakit rohani yang sangat merusak. Rasulullah saw dalam doanya memohon kepada Allah swt agar dijauhkan dari sifat lemah. Ini menunjukkan bahwa sifat tersebut perlu di hilangkan dari lubuk batin manusia.
Islam sangat tidak sepakat bila pengikutnya berkeluh kesah dengan sikap lemah semacam ini. Jika kita tilik lebih jauh, bukankah Allah telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya (ahsani taqwim). Karenanya, manusia perlu memanfaatkan segala kelebihan yang dimilikinya. Firman Allah Swt:
“Janganlah kamu bersikap lemah dan janganlah (pula) kamu bersedih hati,padahal kamulah orang yang paling tinggi(derajatnya) jika kamu orang-orang beriman.” (Q.S Ali Imran: 139).
Akan tetapi, setiap daripada manusia pasti pernah mengalami suatu saat yang dinamakan lemah semangat. Kurang motivasi dan tidak bertenaga untuk melakukan sesuatu. Ada masa rasa sangat bermotivasi untuk belajar, bekerja, bermain dan sebagainya. Ada masa juga  lemah dan tidak bersemangat yang dikenal dengan istilah al-futur. Hal ini sungguh sangat marak terjadi di kalangan pelajar tepatnya pada dunia putih abu-abu (SMA).
A.            Definisi Al-Futur
Secara bahasa kata Al-Futur merupakan bentuk jamak dari kata fatara berarti lemah dalam sesuatu. Sebagaimana firman Allah dalam Q.S Az-Zukhruf: 75.
(لا يُفَتَّرُ عَنْهُمْ), mereka berputus asa di dalamnya.[21]
Sedangkan secara istilah ialah suatu keadaan yang menunjukkan lemahnya semangat. Adapun definisi lemah semangat adalah tidak memiliki daya dorong yang kuat atau mudah terserang penyakit.[22] 
Berangkat dari Q.S Az-Zukhruf: 75, adapun penafsiran ulama dengan mengaitkannya hingga ayat 78 ialah “Setelah Allah menerangkan suasana yang dialami oleh orang-orang yang bahagia, maka Allah melanjutkan dengan menerangkan suasana yang dialami oleh orang-orang yang ditimpa kemalangan. Allah befirman, “Sesungguhnya orang-orang yang berdosa kekal di dalam azab neraka Jahannam. Tidak diringankan azab itu dari mereka, “walaupun sekejap dan mereka di dalamnya berputus asa dari semua kebajikan. Dan tidaklah kami menganiaya mereka tapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri. Dengan perbuatan-perbuatan mereka yang buruk setelah hujjah ditegakkan atas mereka dan para utusan dikirimkan kepada mereka, kemudian mereka mendustakan dan durhaka. Oleh karena itu mereka dibalas dengan balasan yang setimpal. Dan tuhanmu tidak pernah menzalimi hamba-hamba-Nya walaupun sedikit. “Mereka berseru, hai Malik,” yaitu malaikat penjaga neraka. “Biarlah Tuhanmu membunuh kamisaja.” Yakni, biarlah dia mencabut nyawa-nyawa kami sehingga kami dapat beristirahat dari apa yang kini kami rasakan, karena mereka itu adalah sebagaiman telah difirmankan-Nya, “Mereka tidak dibinasakan sehingga mereka mati dan tidak pula diringankan dari mereka azab-Nya.”(Fatir: 36) Maka perkataan itu dijawab oleh Malik, “Kamu akan tetap tinggal.” Yaitu, kamu tidak akan dikeluarkan dari neraka ini dan kamu tidak akan mendapatkan tempat berlari daripadanya. 
Kemudian Allah SWT menerangkan apa yang menjadi penyebab kemalangan mereka itu, yaitu sikap mereka yang selalu menentang kebenaran. Maka Allah berfirman, “ Sesungguhnya kamu benar-benar telah membawa kebenaran kepada kamu.” Yakni kami telah menerangkan, menjelaskan, dan menafsirkannya kepada kamu, “tetapi kebanyakan di antara kamu membenci kebenaran itu.”  Yakni, akan tetapi sudah menjadi watak kamu untuk tidak menerima kebenaran. Tabiat kamu selalu menggiring kamu kepada kebatilan dan menghalangi dari jalan kebenaran. Oleh karena itu cercalah diri-diri kamu. Namun, betapa terlambatnya penyesalan itu. Penyesalan tidak akan berguna dan cercaan tidak akan bermanfaat.”[23]
B.            Sebab-Sebab Munculnya Al-Futur.
Adapun penyebab munculnya Al-Futur ini antara lain adalah kelesuan rohani, keadaan fisik yang tidak normal, pengaruh lingkungan, kurangnya pendidikan dan faktor  keturunan.
1.      Yang menjadi induk ialah kelesuan rohani. Sebagaimana hadits yang menerangkan bahwa:
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِى شَيْبَةَ وَابْنُ نُمَيْرٍ قَالاَ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ إِدْرِيسَ عَنْ رَبِيعَةَ بْنِ عُثْمَانَ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ يَحْيَى بْنِ حَبَّانَ عَنِ الأَعْرَجِ عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « الْمُؤْمِنُ الْقَوِىُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِى كُلٍّ خَيْرٌ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ وَإِنْ أَصَابَكَ شَىْءٌ فَلاَ تَقُلْ لَوْ أَنِّى فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا. وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ[24]
Artinya:
"Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah. Namun masing-masing ada kebaikan. Semangatlah meraih apa yang manfaat untukmu dan mohonlah pertolongan kepada Allah, dan jangan bersikap lemah. Jika engkau tertimpa suatu musibah janganlah mengatakan, "Seandainya aku berbuat begini dan begitu, niscaya hasilnya akan lain." Akan tetapi katakanlah, "Allah telah mentakdirkannya, dan apa yang Dia kehendaki Dia Perbuat." Sebab, mengandai-andai itu membuka pintu setan." (HR. Muslim)
Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam memerintahkan setiap mukmin, baik yang kuat maupun yang lemah, untuk bersemangat dalam mencari apa yang manfaat untuk dirinya dari urusan dunia dan akhiratnya. Namun tidak boleh lupa terhadap kuasa Allah dengan senantiasa meminta pertolongan kepada-Nya dalam menjalankan usaha tersebut. "Semangatlah meraih apa yang manfaat untukmu dan mohonlah pertolongan kepada Allah, dan jangan bersikap lemah."
Syaikh Abdurrahman bin Hasan Alu Syaikh menjelaskan maksud hadits di atas, "Dan maksudnya: bersemangat dalam menjalankan sebab yang bermanfaat bagi hamba dalam urusan dunia dan akhiratnya dari sebab-sebab yang wajib, sunnah, dan mubah yang telah Allah syariatkan. Lalu dalam mengerjakan sebab tersebut, hamba tadi meminta tolong kepada Allah semata, tidak kepada selain-Nya, agar sebab itu menghasilkan dan memberi manfaat. Bersandarnya hanya kepada Allah Ta'ala dalam mengerjakannya. Karena Allah lah yang menciptakan sebab dan akibatnya. Suatu sebab tidak akan berguna kecuali jika Allah mengizinkannya. Sehingga hanya kepada Allah Ta'ala semata ia bertawakkal dalam mengerjakan sebab. Karena mengerjakan sebab adalah sunnah, sementara tawakkal adalah tauhid. Jika ia menggabungkan keduanya, maka akan terwujud tujuannya dengan izin Allah." (Fath al-Majid: 560)
Usaha dan isti'anah harus terus dilakukan, tidak boleh melemah karena malas, putus harapan, perkataan orang, perasaan tidak enak, mitos atau sebab yang tak jelas lainnya. Karena ada sebagian orang yang sudah bersemangat menggapai apa yang dibutuhkannya dan disyariatkan kepadanya, lalu ia melemah dan malas sehingga meninggalkan amal tersebut. Manfaat dan mashlahat yang dibutuhkannya hilang begitu saja sehingga ia menjadi manusia merugi.
2.                  Tabiat/ watak asli
Ada sebagian orang yang memang memiliki tabi'at/watak asli yang buruk, rendah, suka iri dan dengki terhadap orang lain. Tabi'at ini lebih mendominasi pada diri orang tersebut, sehingga terkadang pendidikan yang diperolehnya sama sekali tidak mempengaruhi perilakunya.
3.                  Lingkungan
Lingkungan memberikan dampak yang sangat kuat bagi perilaku seseorang, karena seperti dikatakan pepatah bahwa seseorang adalah anak lingkungannya. Kalau dia hidup dan terdidik dalam lingkungan yang tidak mengenal makna adab dan akhlak serta tidak tahu tujuan hidup yang mulia, maka akhlaknya akan rusak sebagai mana hasil didikan lingkungannya.

C.            Efek Al-Futur bagi pribadi dan masyarakat.
Semangat yang lemah merupakan sifat orang-orang munafik dan yang ketinggalan perang, yang merasa senang duduk di belakang Rasulullah mereka berkata dalam QS. at-Taubah : 81
لاَتَنفِرُوا فِي الْحَرِّ
Terjemahnya:
“Janganlah kamu berangkat (pergi berperang) dalam panas terik ini"[25]

Benarlah ucapan Sayyid Quthb, ia berkata: 'Barisan yang diisi oleh orang-orang yang lemah tidak akan bisa bertahan kuat, karena sesungguhnya mereka  akan mengecewakan di saat susah.  Karena itulah semangat tinggi harus menjadi sifat mendasar dalam perilaku penganut agama ini agar mereka lebih mampu bersikap teguh, tegar dan berdiri tegak.
Menunda adalah salah satu gambaran kelemahan manusia yang terkadang menghinggapi orang yang mempunyai semangat, maka ia kehilangan banyak kebaikan. Inilah yang membakar hati Ka'ad bin Malik ketika ketinggalan perang bersama Rasulullah r dalam perang Tabuk. Dia dalam kondisi tenang karena dia sudah siap dan sudah mempunyai bekal. Kemudian dia menceritakan tentang dirinya bahwa dia bisa menyusul. Kemudian ia berkata: “Tentara telah berangkat dan aku berniat untuk berangkat hingga bisa menyusul mereka andaikan aku melakukannya namun aku tidak ditakdirkan melakukan hal itu…”[26] setelah itu Ka'ab hidup dalam perasaan tersiksa jiwanya hingga saat Rasulullah pulang, kemudian 50 hari dikucilkan, hingga turun taubatnya. Dia menjalani hidup yang sempit sebagai dampak keterlambatan padanya atau menunda pekerjaan.
D.           Kiat-kiat mengatasi Al-Futur.[27]
1.                  Membekali Diri Dengan Ilmu Agama 
Orang yang berilmu itu lebih dahsyat dirasakan beratnya oleh setan daripada ahli ibadah yang yang tak berilmu. Tipu daya setan lemah di hadapan orang yang berilmu. Muadz bin Jabal Radhiyallahu 'anhu mengatakana,"Ia (ilmu) adalah teman dalam keadaan bahagia dan kesusahan, serta senjata di hadapan musuh".
2.                  Memanjatkan Doa.
Seberat apapun masalah yang sedang menimpa, seorang hamba tidak sepantasnya berputus harapan dari rahmat Allah. Semua permasalahan yang menghimpitnya harus dikembalikan kepada Allah. Kita wajib bersimpuh memanjatkan doa, berupaya sekuat-kuatnya dan bersabar. Dengan harapan, Allah akan melenyapkan kesusahan ataupun cobaan yang sedang menimpa. Jika menelaah perjalanan hidup Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, para sahabat serta generasi Salaf, kita akan mengetahui betapa mereka sangat bertumpu dengan memanfaatkan kekuatan doa. Betapa mengagumkan, dan sekaligus membuka tabir, bahwa diri kita kurang menekuni ibadah yang satu ini.
Tentunya, doa ini harus dibarengi juga dengan upaya memperbaiki diri. Sebab, bisa jadi, kegagalan atau musibah yang menimpa seorang hamba, lantaran kurangnya ia dalam memperhatikan aturan Allah. 
3.                  Meneguhkan Tawakkal Kepada Allah Swt.
Kekuatan yang hakiki adalah kekuatan hati dan kemampuan untuk bertahan diri. Menurut Ibnul Qayyim rahimahullah, sesungguhnya tawakkal termasuk salah satu faktor yang kuat dalam membantu mewujudkan cita-cita (keinginan) dan menepis perkara yang tidak disukai. Ia merupakan motivasi yang paling kuat. Hakikat tawakkal, ialah ketergantungan hati hanya kepada Allah semata. Usaha yang dilakukan tidak memiliki pengaruh, jika hati kosong dari penyerahan diri kepada Allah dan bahkan cenderung kepada selainNya. Sebagaimana tidak bermanfaat perkataan orang “aku bertawakkal kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, tetapi, ternyata dirinya sangat tergantung, pasrah dan percaya kepada selainNya. Tawakkal pada mulut memiliki makna sendiri, dan tawakkalnya hati mempunyai makna yang lain.  Oleh karena itu, al Hasan Bashri mengatakan : Sesungguhnya, tawakkal seorang hamba kepada Rabb-nya adalah, ia meyakini bahwa Allah itu menjadi sumber kepercayaan dirinya. Dalam kesempatan lain, beliau menyatakan, Allah menjamin rezeki bagi hamba yang menyembahNya, dan kemenangan bagi orang yang bertawakkal dan memohon pertolongan kepada-Nya, serta kecukupan bagi orang yang menjadikan Allah sebagai pusat dan tujuan utama. Orang yang cerdas lagi pintar, ia akan memikirkan perintah Allah, pelaksanaannya dan taufik dariNya, bukan menunggu-nunggu jaminan dari Nya. Sesungguhnya Allah menepati janji lagi jujur.
4.                  Memiliki Tekad Yang Tinggi.
Seorang hamba akan mendapatkan sesuatu sesuai dengan kadar tekad dan semangatnya. Orang yang benar-benar ingin menggapai satu tujuan, pasti akan mengoptimalkan segala daya upaya dalam mewujudkannya. Segala yang berpotensi menghalangi pencapaiannya, akan disingkirkan, demi mempercepat dan melempangkan jalan menuju tangga kesuksesan yang selama ini diidamkannya. Detik-detik waktunya selalu disibukkan dengan hal tersebut. Mencari-cari kesempatan dan sarana yang bisa membantu pencapaian keberhasilannya. Pikiran dan kata hatinya juga larut dengannya. Karena ia mengetahui, keberhasilan sesuai dengan kepenatan yang dilalui.
5.                  Menelaah Biografi Salaful Ummah.
Yang dimaksud dengan Salaful Ummah, yaitu para sahabat Nabi dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Generasi pertama, para pembela Islam dan pemikul risalah kepada generasi berikutnya. Mereka adalah manusia yang paling kuat keimanannya, paling bersih hatinya, paling tinggi tingkat tawakkalnya kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. 
Jika menyelami kisah hidup mereka yang penuh cahaya, kita akan berkesimpulan, bahwa perjalanan hidup mereka tidak selalu mulus, penuh ujian dan pengorbanan disertai ketabahan yang tinggi saat kalah oleh musuh dalam membela kebenaran. Menelaah peri hidup mereka, akan mampu menambah keimanan, mencerahkan hati. Juga akan mengantarkan kepada pemahaman, jika kehidupan itu tidak steril dari onak dan duri. Jalan kehidupan tidak selalu berhiaskan mawar yang semerbak mewangi, tetapi ada saja halangan dan ujian menghadang, ataupun mungkin berujung pada kegagalan. Secara umum, Allah menegaskan manfaat kisah-kisah para nabi dan rasul sebelumnya yang mampu juga meneguhkan hati dan memberikan secercah harapan.
 Sebagaiman firman Allah dalam Q.S Hud: 120.
وَكُلاًّ نَقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ أَنبَآءِ الرُّسُلِ مَانُثَبِّتُ بِهِ فُؤَادَكَ وَجَآءَكَ فِي هَذِهِ الْحَقُّ وَمَوْعِظَةٌ وَذِكْرَى لِلْمُؤْمِنِينَ

Terjemahnya:
“Dan semua kisah dari rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu; dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman.”
Perenungan ini akan memacu semangat baru dalam mengarungi kehidupan yang terjal. Sebab ternyata ia tidak sendirian mengalami kepahitan, bahkan orang-orang terbaik yang pernah berjalan di muka bumi ini, semua pernah merasakan kepahitan. 
E. Bentuk dan fenomena Al-Futur dalam masyarakat.
Dikisahkan dari perjalanan hidup Imam al-Kasai, seorang ulama ahli Nahwu, saat mulai bejalar ilmu Nahwu beliau mendapati kesulitan sehingga hampir putus asa. Kemudian beliau menemukan seekor semut membawa makanan ke atas tembok. Setiap semut itu naik sedikit, ia terjatuh. Begitu berulang-ulang sehingga ia berhasil naik ke atas. Imam al-Kasai mengambil pelajaran dari semut tersebut, beliau bersungguh-sungguh dalam belajar sampai menjadi imam besar dalam ilmu Nahwu.
Selain itu, orang-orang yang tidak lemah/ tidak  malas dalam pelaksanaan puasa dan shalat dapat dikategorikan sebagai mujahid. Sebagaimana yang akan dijelaskan oleh hadis berikut.
أخبرنا عمر بن سعيد بن سنان ، - وكان قد صام النهار ، وقام الليل ثمانين سنة غازيا ومرابطا - أخبرنا أحمد بن أبي بكر ، عن مالك ، عن أبي الزناد ، عن الأعرج ، عن أبي هريرة ، أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : « مثل المجاهد في سبيل الله كمثل الصائم القائم الذي لا يفتر من صيام وصلاة حتى يرجع »[28]




























[1]Ilyas Ismail, Pilar-Pilar Takwa, (Cet. 1; Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2009), h. 138.
[2]Abu Hamid Al-Ghazali, Mizan Amal, Jil. 2, (Beirut: Da>r al-Kutub al-‘Ilmiyah, 1989), h. 263.
[3]Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Madarijus-Salikin, Baina Manazili Iyyaka Na’Budu wa Iyya>ka Nasta’i>n, terj. Kathur Suhardi, Madrijus-Salikin: Pendakian Menuju Allah, (Cet. 1; Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 1998), h. 242.
[4]Muhammad bin Ismail Abu Abdullah Al-Bukhari, Shahi>h Al-Bukhari, Juz. 1, (Cet. 6;  Beirut: Da>r Ibnu Katsi>r, 1987 M/1407 H ), h. 49.
[5]Ayat Dimyati, Hadits Arba’i>n (Masalah Aqidah, Syari’ah dan Akhlaq), (Bandung: Marja’, 2001), h. 6-8.
[6]Toriq Al-Din, Sekularitas Tasawuf (Membumikan Tasawuf dalam Dunia Modern), (Cet. 1; Malang: UIN-Malang Press, 2008), h. 59-60.
[7]Anas Ahmad Karzon, Tazkiyatun Nafs ( Cet. 1; Jakarta Timur: Akbar Media, 2010), h.266.
[8]Departemen Agama RI, Mushaf Al-Qur’an dan Terjemah (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar), h. 831.
[9]Ibid., h. 543.
[10]Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, op.cit., h. 243-245.
[11]Muslim bin Al-Hajja>j Al Abu Al-Husai>n, Shahi>h Al Muslim, Juz. 1,(Cet. 5; Beirut: Da>r Ihya> Al-Tura>s}, t. th), h. 187.
[12]Muhammad Al-Utsaimin, Syarah Riyadhu Ash-Shalihin, terj. Munirul Abidin, Syarah Riyadhus Shalihin, (Cet. 1; Jakarta: Darul Falah, 2005), h. 654.
[13]Muhammad bin Ismail Abu Abdullah Al-Bukhari, op.cit.,  Juz. 20. h. 279.
[14] Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin, Maka>rim Al-Akhla>k, terj. Abu Hudzaifah Ahmad bin Kadiyat, Akhlak-Akhlak Mulia, (Cet. 1; Surakarta: Pustaka Al-Afiyah, 1431/2010), h. 104.
[15]Muhammad bin ‘Isa Abu ‘Isa> Al-Tirmi>dzi, Sunan Al-Tirmi>dzi, Juz 8, (Beirut: Da>r Ihya> Al-Tura>s}, t. th), h. 57.
[16]Muhammad bin Ismail Abu Abdullah Al-Bukhari, op.cit., Juz. 12,  h. 203.
[17]Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, op.cit., h. 241.
[18]Mah}mu>d al-Mis}ri Abu Ammar, Ensiklopedia Akhla>q Rasul, (Cet. I; Jakarta: Pena Pundi Aksara, 2008), h. 523.
[19]Muhammad bin Ismail Abu Abdullah Al-Bukhari, op.cit., Juz. 20,  h. 258.
[20] Imam Nawawi, Riya>dhus Sha>lihi>n  (Cet.5; Jakarta: Akbar Media Eka Sarana), h. 266.
[21]Abu al-husain Ahmad bin Faris bin Zakariyah, Mu’jam Maqa>yis al-Lughah, Juz 4, Bairut: Dar al-Fikr, t. th, h. 470.
[22]Depdikbud, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Cet. 3; Jakarta: Balai Pustaka, 1990), h. 254.
[23]Muhammad Nasib Ar-Rifa’I, Taisi<ru al-Aliyyul Qadir li Ikhtisha<ri Tafsi<r Ibnu Katsir, terj. Syihabuddin, Kemudahan dari Allah: Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir,  Jil. 4, (Cet. I; Jakarta: Gema Insani, 2000), h. 285-286.
[24]Muslim bin Al-Hajja>j Al Abu Al-Husai>n, Shahi>h Al Muslim, Juz. 8,(Cet. 5; Beirut: Da>r al-Ji>l}, t. th), h. 56.
[25] Departemen Agama RI, Mushaf Al-Qur’an dan Terjemah (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar), h. 200.
[26]Muhammad bin Ismail Abu Abdullah Al-Bukhari, Shahi>h Al-Bukhari, Juz. 8, (Cet. 6;  Beirut: Da>r Ibnu Katsi>r, 1987 M/1407 H ), h. 113.
[27]Satria Hadi Lubis, Total Motivation, (Cet. 1; Yogyakarta: Aura Pustaka), h. 34.
[28]Muhammad bin Hiba>n bin Ahmad, Shahi>h Ibnu Hiba>n, Juz 19, (Beirut: Muassasat al-Risa>lah, 1993/1414), h. 248.

Tidak ada komentar: