MAHASISWA KRITIS, MERETAS KREATIFITAS.
Mahasiswa kalau diartikan secara
sederhana artinya maha yakni besar, dan siswa artinya pelajar, jadi
Mahasiswa itu siswa yang besar. Karena secara hierarkis pendidikan, mahasiswa
ini sudah menempuh wajib belajar 9 tahun. Besar disini, bukan di artikan secara
fisikly (berat, besar, atau tinggi) akan tetapi besar di sini di artikan
sebagai siswa yang memiliki pemikiran (intelektual) yang lebih matang/kritis. Sejatinya, mahasiswa secara pemikiran harus
sudah di arahkan ke ranah itu, tidak lagi manja apa lagi merengek minta
di kerjakan tugas kuliahnya.
Sedikit banyak mengulas sejarah tahun
1998, semangat Reformasi. Pada masa reformasi tahun 1998, mahasiswa menjadi
salah satu gerbong alat pemusnah kekuasaan rezim soeharto yang sudah mengakar
selama 32 tahun lamanya. Tidak bisa di pungkiri, aktor reformasi pada masa itu
di dalangi oleh mahasiswa. Tajam pemikiran, analisis kuat, dan praksis konkret sudah
menjadi bagian dari identitas mahasiswa pada era itu. Dengan semangat
revitalisasi birokrasi, yang kala itu tertanam kuat di kepala mereka dan
menjadi paradigma baru, membuat rezim soeharto kalang kabut.
Kita tinggalkan sejenak sejarah itu.
Dari sikap kritis mahasiswa, saya pikir budaya akademik sangatlah penting
menjadi bagian dari brand pemikiran itu. Budaya akademik itu diartikan
sebagai suatu sikap hidup yang ditandai oleh keinginan serta usaha untuk
mengetahui sesuatu yang baru dan benar, untuk memajukan ilmu pengetahuan, untuk
mencari kebenaran. Dalam kehidupan ilmiah, budaya akademik ini menjadi sumber
dari 3 jenis aktivitas, yakni 1) kegiatan mencari pengetahuan baru
secara terus menerus; 2) kegiatan mencari kebenaran secara terus menerus; dan
3) aktivitas menjaga secara terus menerus, agar ilmu serta pengetahuan yang
telah di kembangkan tidak di cemari oleh kepalsuan dan kebohongan.
Inilah budaya akademik, yang saya pikir,
perlu di tumbuh suburkan di kampus tercinta STAIN Purwokerto, kampus putih. Mahasiswa
secara kritis, sudah tidak lagi disibukkan dengan pertentangan ideologi, tetapi
harus sudah merambah ke penguatan ide. Ide inilah yang nantinya menyatukan
persepsi dan pemikiran, yang hakekatnya untuk mencari kebenaran sebuah
kebijakan, dalam hal ini saya contohkan pada kebijakan kampus. Ketika mahasiswa
kritis arti kebenaran pun akan terterawang.
Mahasiswa kritis, menghasilkan
kreatifitas. Aktifits mahasiswa saat ini sangatlah terlihat jelas, dan tidak
lepas dari komponen ini, kampus, perpus, kos/pondok dan kantin. Ke kampus untuk
sekedar duduk manis mendengar celoteh dari abdi kampus(dosen), duduk di
belakang paling pojok dan tidak jarang manggut-manggut kantuk kemudian pulas,
sesekali ke perpus hanya untuk memenuhi tugas kampus, sekedar cari buku dan log
in kartu perpus. Kos/pondok menjadi tempat tongkrongan utamannya, di kos
menjadi markas strategis untuk bermalas-malasan mungkin, saling bersautan mendeskripsikan
abdi kampus(dosen) yang di rasa menyebalkan, di pondok tidak beda jauh dengan
kos, hanya berbeda di antusiasnya mendalami ilmu agama di banding di kos dan
kantin menjadi salah satu sumber inspirasi utama berangkat kuliah.
Pertanyaanya, di mana sisi intelektual
mahasiswa sekarang ini. Bukan pesimis, tapi itu kenyataan yang bisa di dapat,
toh tidak semua mahasiswa menerima keadaan ini. Budaya diskusi, belajar
organisasi, dan menjadi kutu buku, bisa di katakan sebagai salah satu tolak
ukur bentuk antusiasme pada pengetahuan. Tapi betul, apa yang di sebut sebagai
ketakutan akademik, masih ada di pikiran kawan mahasiswa. Cenderung menutup
diri (ekslusif) dari diskusi, organisasi, maupun presentasi pengetahuan.
Paradigma pun akan muncul, bahwasannya diskusi, dan organisasi tidaklah
berfungsi bagi diri.
Implikasi kritis ini, akan merasuki jiwa
kreatifitasnya. Logikanya, mereka yang kritis tentunya akan selalu berpikir,
memastikan otaknya terus berputar. Sebagai deskripsi, mahasiswa pergi ke pasar
bukan sekedar latihan menawar ataupun belanja, tetapi melihat sisi lain.
Melihat apa yang bisa laku di situ. Dan kreatifitas itu, tidak hanya di
identikan dengan penjual jajan, operator pulsa berjalan, atau mereka
yang sekedar menawarkan buku kuliah, ataupun batik kuliah di kampus. Tapi
kreatifitas di sini lebih universal. Dan tidak salah, bila kreatifitas di
persepsikan semacam itu.
Mereka yang mampu mengembangkan nalar
kritisnya, menjadi karya fenomenal yang tak lagi abstrak, merupakan kesatuan
bentuk kreatifitas keilmuan yang di miliki. Mampu meretas kreatifitas, dari
pemikiran kritis. Salah satu bentuk kreatifitas itu, di wujudkan dengan torehan
catatan emas ilmiahnya, cerpen, puisi, ataupun artikel pengubah paradigma kolot
mahasiswa. Gnosis dan praksis haruslah selalu menjadi bagian. Tidak salah,
ketika semakin kritis konsep pemikiran mahasiswa, maka semakin kreatif pula
menelurkan karya terbaiknya.
Dan akhirnya, paradigma kritis itu harus
mulai di tata. Merenungi pula, bentuk kreatifitas seperti apa saja dari
implikasi sikap kritis itu. Berbisnis, dan karya dari ilmu, salah satu hasil
dari kritis itu. Ingat, mahasiswa adalah agen perubahan, agen sosial dan intelektual
muda yakni mereka yang tercerahkan dan mencerahkan (ali syariati).
Tuhan memberi
kecerdasan
agar dapat
membedakan benda-benda,
Dan Dia memberi
pengetahuan agar dapat menimbang dan berfikir
(Fariduddin
Attar).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar